03
Apr
09

PANDANGAN AGAMA TERHADAP PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

Oleh: Hayati Nizar

A. Pendahuluan

    Prof.Hayati NizarPornografi dan pornoaksi adalh dua kata yang hampir sama di mana pornografi menunjuk kepada substansi dan pornoaksi mengarah kepada perbuatan. Kedua kata tersebut berkonotasi kecabulan dan seksual atau hawa nafsu seks. Ketika kedua kata ini dikaitkan dengan agama, maka pertanyaan yang muncul adalah “bagaimana pandangan agama terhadap keduanya?”

    Untuk menjawab ini, kita perlu melihat perbedaan pandangan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Pencipta makhluk itu. Kita manusia seringkali bicara tentang masalah yang telah atau sedang terjadi, sementara sang Pencipta memandang sesuatu dengan pandangan antisipasi. Artinya, Allah sebagai Pengatur alam tidak bicara tentang masalah, tetapi mengantisipasi timbulnya masalah. Boleh dikatakan bahwa ajaran agama yang digariskan oleh Allah bersifat preventif untuk menjaga umat manusia.

    Agama, khususnya Islam berasal dari kata “salima” yang berarti “selamat.”  Imbuhan “hamzah” (a) di depan menjadi “aslama, yuslimu, islaman” berarti menyelamatkan. Dengan demikian kata “islam” berarti menyelamatkan umat  dari kehancuran. Agar manusia sebagai makhluk mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat, maka Allah membuat aturan-aturan yang jelas dalam ajaran agama Islam.

    Dalam makalah ini akan dikemukakan tentang penyebab utama masalah pornografi dan pornoaksi;  pornografi dan pornoaksi dalam sumber ajaran Islam,   aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, dan aturan berpakaian bagi perempuan muslimah. Continue reading ‘PANDANGAN AGAMA TERHADAP PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI’

    01
    Apr
    09

    ISLAMIC MODEL OF TRANSPERSONAL PSYCHOTHERAPY

    Reza Fahmi

    Abstrak

    Perubahan paradigma dalam terapi psikologi, bermula dari perkembangan terapi yang berorientasi pendekatan Behavioristik, Freud, Humanistik. Kemudiannya melahirkan paradigma baru yang dinamai transpersonal psikoterapi. Di mana paradigma transpersonal psikoterapi ini berbasis pada proses bimbingan dan konseling manusia melalui pendekatan spiritual. Lebih jauh transpersonal psikoterapi tersebut diklaim sebagai salah satu model terapi Islami.

    Keywords: Transpersonal Psychotherapy, Scope and Limitation of Transpersonal Psychotherapy, Islamic Psychotherapy.

    Introduction

    The concern of psychology is the manipulation of the variables and processes involved in motivation, development and modification of human behaviour. In pursuance of this need modern psychological theories are founded to serve as guide for human psychoses. The formulations of these theories according to Cowley and Derezotes (1994) are based on cultural and geographical limitations as they emerged over time to address the needs of the people of different social contexts1. With the variations in perception, environment, and the passage of time the discipline of psychology undergoes different transformations based on three well-known paradigmatic forces of Behaviouristic, Freudian and Humanistic psychology. These transformations reveal the psychological concern for soul, psyche (conscious and unconscious state of man), mental processes, feelings and sensations underlying human behaviour2. Maslow (1968) considered the humanistic third force psychology to be a transitional preparation for a still ‘higher’ fourth paradigmatic force of psychology, ie. transpersonal psychology. This is based on the observation of Maslow (1970) that human beings who are wonderful out of their own human and biological nature necessitate the need for another paradigm for a more complete understanding of psychoses and the effective treatment.

    Continue reading ‘ISLAMIC MODEL OF TRANSPERSONAL PSYCHOTHERAPY’

    05
    Mar
    09

    Telaah Atas Teori-Teori Kepemimpinan Yang Efektif

    Oleh: Fadhilah S.PSi

    Abstrak

    Ada banyak sekali teori kepemimpinan yang kita temukan dalam organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Beberapa teori telah penulis kumpulkan sebagai bahan telaah bagi para pembaca untuk direnungkan. Setiap teori memiliki penekanan yang berbeda-beda. Ada yang berorientasi pada sifat, perilaku, maupun berdasarkan situasi. Masing-masing pendekatannya dipecah ke dalam sub bagian. Di akhir kajian pustaka terhadap teori kepemimpinan ini, penulis menyimpulkan bahwa tidak ada suatu teori kepemimpinan yang unggul atas teori kepemimpinan lainnya. Masing-msing teori memiliki keunggulan masing-masing. Namun keunggulannya terjdi ketika kita mampu mengombinasikan secara sinergis teori-teori tersebut untuk menelaah suatu persoalan kepemimpinan. Tidak akan sukses seseorang menerapkan suatu teori kepemimpinan yang berorientasi perilaku saja, tanpa menggabungkannya teori kepemimpinan yang berorientasi kepada sifat (kepemimpinan). Begitu juga sebaliknya.

    Pendahuluan

    Istilah kepemimpinan telah banyak dikemukakan oleh para ahli manajemen dan perilaku. Beberapa di antaranya dapat ditemukan dalam tulisan Paul Hersey dan Kenneth Blanchard (1994). Di sana dituliskan defenisi beberapa ahli tentang makna kata kepemimpinan di antaranya :

    Pertama, menurut George R. Terry, kepemimpinan adalah : …aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara suka rela… (Hersey; 1995 h:98). Kedua, Robert Tannenbaum, Irving R. Weschler, dan Fred Messarik sepakat mendefenisikan sebagai berikut: …pengaruh antar pribadi yang dilakukan dalam suatu situasi, dan diarahkan melalui proses komunikasi pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu… (Hersey; 1995 h:99).

    Continue reading ‘Telaah Atas Teori-Teori Kepemimpinan Yang Efektif’

    06
    Feb
    09

    INTEGRASI ANTARA KAJIAN TASAWUF DENGAN PSIKOLOGI

    Oleh: Hayati Nizar[*]

    (Guru Besar Psikologi Islam IAIN IB Padang)

    A. Pendahuluan

    Kajian Tasawuf pada era klasik diposisikan pada hasil pemikiran ulama yang sulit dipahami dan berkonsekuensi kurang diminati. Tasawuf  pada intinya adalah studi kejiwaan yang identik dengan psikologi dan perlu diapungkan agar berkembang pesat seperti keadaannya psikologi.  Kajian-kajian keislaman yang dilakukan di PTAI memerlukan rekontruksi islami agar berkembang seiring dengan perkembangan sains dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Sehubungan dengan pemikiran tentang rekonstruksi islami bagi studi kejiwaan, M. Izzuddin Taufiq (2006: 28-53) mengemukakan tiga kelompok sikap umat Islam untuk ini. Pertama, sikap menentang dari kalangan Islam secara umum dengan alasan bahwa  Islam sangat kaya dan tidak memerlukan rekonstruksi. Di samping itu kebudayaan  mereka tidak memperbolehkan mereka  untuk membahas  studi kejiwaan secara spesifik. Continue reading ‘INTEGRASI ANTARA KAJIAN TASAWUF DENGAN PSIKOLOGI’




    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.