05
Mar
09

Telaah Atas Teori-Teori Kepemimpinan Yang Efektif

Oleh: Fadhilah S.PSi

Abstrak

Ada banyak sekali teori kepemimpinan yang kita temukan dalam organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Beberapa teori telah penulis kumpulkan sebagai bahan telaah bagi para pembaca untuk direnungkan. Setiap teori memiliki penekanan yang berbeda-beda. Ada yang berorientasi pada sifat, perilaku, maupun berdasarkan situasi. Masing-masing pendekatannya dipecah ke dalam sub bagian. Di akhir kajian pustaka terhadap teori kepemimpinan ini, penulis menyimpulkan bahwa tidak ada suatu teori kepemimpinan yang unggul atas teori kepemimpinan lainnya. Masing-msing teori memiliki keunggulan masing-masing. Namun keunggulannya terjdi ketika kita mampu mengombinasikan secara sinergis teori-teori tersebut untuk menelaah suatu persoalan kepemimpinan. Tidak akan sukses seseorang menerapkan suatu teori kepemimpinan yang berorientasi perilaku saja, tanpa menggabungkannya teori kepemimpinan yang berorientasi kepada sifat (kepemimpinan). Begitu juga sebaliknya.

Pendahuluan

Istilah kepemimpinan telah banyak dikemukakan oleh para ahli manajemen dan perilaku. Beberapa di antaranya dapat ditemukan dalam tulisan Paul Hersey dan Kenneth Blanchard (1994). Di sana dituliskan defenisi beberapa ahli tentang makna kata kepemimpinan di antaranya :

Pertama, menurut George R. Terry, kepemimpinan adalah : …aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara suka rela… (Hersey; 1995 h:98). Kedua, Robert Tannenbaum, Irving R. Weschler, dan Fred Messarik sepakat mendefenisikan sebagai berikut: …pengaruh antar pribadi yang dilakukan dalam suatu situasi, dan diarahkan melalui proses komunikasi pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu… (Hersey; 1995 h:99).

Berbeda dengan Harold Koonts dan Cyril O’Donnel, mereka lebih ringkas mendefinisikan istilah ini dengan : Upaya mempengaruhi orang-orang untuk ikut dalam pencapaian tujuan bersama… (Hersey, 1995 h:99).

Tiga pengertian di atas hanya sebagian kecil saja dari sekian ratus pengertian kepemimpinan yang dibuat oleh ahli manajemen dan perilaku. Namun pada akhirnya para ahli manajemen dan perilaku sepakat mendefenisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu (Hersey ; h:99).

Definisi d iatas berlaku untuk semua situasi dan semua tempat asalkan ada seseorang yang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok, maka telah berlangsung kepemimpinan. Dengan kata lain, dalam defenisi ini kepemimpinan tidak selalu hanya menceritakan hubungan hirarki antara atasan dan bawahan, tapi setiap seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain maka orang itu adalah pemimpin potensial dan orang yang dipengaruhinya adalah pengikut potensil. Tidak jadi masalah apakah orang tersebut atasan, rekan sejawat, bawahan, kawan, atau sanak keluarga.

Teori-teori tentang Kepemimpinan

Teori Sifat

Teori pertama yang muncul dalam perkembangan teori kepemimpinan adalah teori sifat atau disebut juga dengan istilah “Trait theories” yang diartikan sebagai ciri kepribadian. (Herman Patti Rajawane : 1996, h:16). Teori ini didukung oleh beberapa orang tokoh, antara lain : Barnard, Ordway, Tead, Millet, Stogdill, Davis, G.R. Terry, Ruslan Abdul Gani. Walaupun sama-sama memiliki orientasi maupun aliran yang sma namun setiap tokoh ini memiliki pendapat yang berbeda-beda.

Pandangan tokoh pertama adalah Odway Tead. Menurutnya ada sepuluh macam sifat atau perangai yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Sepuluh sifat itu antara lain :

  1. Energi jasmani dan rohani
  2. Kepastian akan maksud dan arah tujuan
  3. Antusiasme atau perhatian yang besar
  4. Ramah tamah, penuh rasa persahabatan dan ketulusan hati
  5. Integritas atau pribadi uang bulat
  6. Kecakapan teknis
  7. Mudah mengambil keputusan
  8. Cerdas
  9. Kecapakan mengajar
  10. Kesetiaan

Sifat-sifat tersebut diperuntukkan bagi para pemimpin umumnya. Tapi dalam prakteknya kesepuluh sifat tersebut tidak harus bersama-sama dimiliki oleh seorang pemimpin, melainkan sangat bergantung pada tingkat kondisi dari pengikutnya. (Wahjosumidjo, 1992;h;46)

Pandangan tokoh kedua adalah dari John D. Millet; Ada empat sifat yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin:

  1. Kemampuan melihat organisasi sebagai satu keseluruhan
  2. Kemampuan mengambil keputusan-keputusan
  3. Kemampuan melimpahkan atau mendelegasikan wewenang
  4. Kemampuan menanamkan kesetiaan (Wahjosumidjo, 1992;h;46)

Ketiga Keith Davis; Davis mengemukakan empat macam kelebihan sifat-sifat yang perlu dimiliki oleh pemimpin:

  1. Inteligensia
  2. Kematangan dan keluasan pandangan social
  3. Mempunyai motivasi dan keinginan berprestasi yang dating dari dalam
  4. Mempunyai kemampuan mengadakan hubungan antar manusia

Keempat Chester I. Barnard; Ada dua sifat utama yang perlu dimliki oleh pemimpin:

  1. Sifat-sifat pribadi yang meliputi: fisik, kecakapan (skill), teknologi, daya tanggap (perception), pengatahuan (knowledge), daya ingan (memory), imajinasi (imagination)
  2. Sifat-sifat yang mempunyai watak yang lebih subjektif, yaitu keunggulan seorang pemimpin di dalam: keyakinan (determination), ketekunan (persistence), daya tahan (endurance), keberanian (courage).

Kelima Raph Stogdill: Dalam pandangan Stogdill, ia membagi teori sifatnya kedalam dua periode, tahap pertama 1904-1947 dan tahap kedua 1948-1970. Dalam tahap pertama sifat-sifat kepemimpinan yang ada meliputi: usia (chronologic age), tinggi badan, berat badan, gejala fisik (energy, kesehatan), penampilan, kemampuan berbicara, scholarship, pengetahuan, judgement and decision (kemampuan menilai dan pengambilan keputusan), insight (wawasan), keaslian, kemampuan menyesuaikan (adaptability), introversion extraversion, dominance, initiative-persistance-ambition (inisiatif, tekun, semangat), tanggung jawab, integrity and conviction (harga diri dan keyakinan), percaya pada diri sendiri, mood controle and mood oprimission (pengendalian diri, optimis), emotional control (pengendalian emosi), social and economic status, social activity and mobility (aktivitas social dan mobilitas), biosocial activity (kegiatan olah raya), social skill (kecakapan bergaul), popularity and prestige (ketenaran wibawa), cooperation (kerja sama).

Selanjutnya berbagai macam butir tersebut dikelompokkan kedalam komponen pokok: capacity, achievement, responsibility, particivpation, dan setatus, masing-masing kelompok memiliki butir-butir sebagai berikut:

  1. Capacity, meliputiL kecerdasan (inteligensi), kewaspadaan (allertness), kemampuan berbicara (verval vacility), keaslian (originality), dan kemampuan menilai (judgement).
  2. Achievement, meliputi: gelar kesarjanaan (scholarship), pengetahuan (knowledge), keberhasilan  dan olah raga (athletic accomplishment).
  3. Responsibility, meliputi: berdikari, inisiatif, ketekunan, agresif, percaya pada diri sendiri, keinginan untuk unggul.
  4. Participation, meliputi: aktif, kemampuan bergaul, kerjasama, mudah menyesuaikan diri, humor.
  5. Status, meliputi: kedudukan sosial ekonomi, ketenaran.

Keenam Ruslan Abdul Gani: menurut beliau seorang pemimpin harus memiliki kelebihan-kelebihan daripada yang dipimpin. Dengan adanya kelebihan-kelebihan tersebut. Kewibawaan seseorang akan selalu dapat dipertahankan, sehingga ketaatan dari pada bawahan juga tetap dapat terpelihara.

Menurut Ruslan kelebihan yang harus dimiliki pemimpin itu ada empat hal, yakni:

  1. Moral dan akhlak
  2. Jiwa dan semangat
  3. Ketajaman intelek dan persepsi
  4. Ketekunan dan keuletan jasmaniah. (Wahjosumidjo, 1992;h;53)

Dari beberapa pokok pikiran beberapa tokoh tersebut dapat dilihat bahwa teori ini begitu sulit untuk dipraktekkan, karena memiliki kelemahan. Diantara kelemahan itu antara lain:

  1. Diantara pendukung-pendukungnya sendiri tidak ada kesepakatan mengenai sifat-sifat pemimpin tersebut. Sehingga timbul berbagai pendapat diantara pendukung teori tersebut.
  2. Teori sifat terlalu bersifat deskriptif, tidak memberikan analisis bagaimana sifat-sifat yang dianggap unggul tersebut dengan efektivitas kepemimpinan.
  3. Terlalu sulit untuk menentukan dan mengukur masing-masing sifat, yang sangat berbeda satu dengan yang lain. Situasi dan kondisi tertentu dimana kepemimpinan di laskanakan.

Atas dasar kelemahan-kelemahan tersebut diatas timbul bahwa teori sifat merupakan teori kepemimpinan yang sudah kuno, sebab sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan. Namun khusus untuk nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung dalam rumusan teori sifat, justru sangat diperlukan oleh pemimpin yang menerapkan prinsip keteladanan dan panutan.

Teori Perilaku

Perkembangan teori kepemimpinan selanjutnya yaitu para ahli lebih menitik beratkan pada fungsi pemimpin. Para ahli yang mencoba meneliti teori perlaku ini antara lain: kelompok studi Universitas Michigan, kelompok studi Universitas Ohio, model “Auto-Democratic Continum” yang dikembangkan Tannenbaum dan Schmidt, dan terakhir Robert Blake dan Jane S.Mouton yang mmeperkenalkan “Managerial grid” (kisi-kisi managerial).

Ahli-ahli mencoba mengembangkan teori ini mulai menerapkan kriteria prestasi untuk memenui tujuan organisasi. Sehingga yang dipentingkan disini adalah kebutuhan organisasi, bukan kebutuhan orang-orang yang ada dalam organisasi itu.

Berikut dijelaskan secara singkat pendekatan-pendekatan yang ada didalam teori perilaku :

Pende pertama, Studi Univesitas Michigan menyimpulkan ada dua dimensi perilaku, yakni, berorientasi pada produksi (production oriented). Pada hasil penelitian di Universitas Michigan, penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemimpin yang berorientasi pada bekerja akan menghasilkan produktivitas yang tinggi, dan kepuasan kerja yang tinggi. Sebaliknya perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi akan menghasilkan produktivitas serta kepuasan kereja yang rendah.

Sementara pendekatan kedua, Studi Universitas Ohio mencoba mencari dimensi-dimensi perilaku pada diri pemimpin ditinjau dari hubungan bahwahan atau pekerja. Ternyata mereka juga menemukan 2 dimensi yang mereka sebut : initiating structure dan consideration. initiating structure, perilaku pemimpin lebih kepada : menekankan pada pekerja bahwa batas waktu itu penting : melakukan pengawasan ketat pada pekerja; mengharuskan pekerja memngikuti semua instruksi. Adapun consideration, perilaku pemimpin menurut isilah ini antara lain : mempercayai pekerja : bersedia membantu kesulitan pekerja : bersedia menerima usulan pekerja.

Pendekatan ketiga, Model Autocrtatic-Democratic. Model ini dikemukakan oleh Tannembaum dan Schmidt, perilaku autokratik dan demokratik dipandang sebagai dua posisi yang ekstrim, dan merupakan suatu kontinum. Seorang pemimpin yang membuat keputusan manajerial kemudian menginstruksikan anggotanya agar melakukan apa yang dikatakannya, di pihak lain seorang pemimpin dalam keputusannya melibatkan bawahan secara penuh.

Pendekatan keempat, Managerial Grid Style (Gaya Kisi-Kisi Manajerial). Robert Blake dan Jane S.Mouton, orang yang mengembangkan teori ini, memakai dua dimensi, yaitu garis tegak untuk dimensi “consideration:, serta garis mendatar utnuk dimensi “production” (perhatian pada produksi atau tugas). Merek membuat lima gaya manajemen dengan memberikan masing-masing gaya dengan cara mengkombinasikan angka.

Gaya-gaya tersebut antara lain :

Pertama, gaya manajemen 1.1, memberikan perhatian yang sedikit pada manusia maupun produksi; dengan kata lain mereka dibiarkan sendiri; manajer ini sering disebut “Improverished Managers”.

Kedua, gaya manajemen 5.5 merupakan gaya manajer yang memberikan perhatian dan tanggung jawab atau senang, baik bagi anggota, bagi tugas, serta penyelesaiannya. Manajer disini disebut “middle of the road manager”.

Ketiga, gaya manajemen 1.9 memberikan perhatian terbanyak untuk kebutuhan dan keberadaan manusia, pekerjaan utama manajer adalah bagaimana anggota bahagia dan tentram. Manajer pada gaya ini disebut “Country club managers”.

Keempat, gaya manajemen 9.9 merupakan gaya manajemen yang dianggap paling efektif dalam model ini karena member perhatian yang tinggi kepada anggota dan digabungkan dengan perhatian yang tinggi pada tugas, mereka adalah “Team Spirit managers”.

Teori Kontingensi (Contingency/Situational Theories)

Teori yang berkembang berikutnya disebut dengan teori kepemimpinan kontingensi atau teori situasional. Teori ini menjelaskan interaksi karakteristik seseorang pemimpin dengan berbagao factor situasi untuk mendapatkan pemimpin yang efektif. Teori situasional atau kontingensi ini juga memiliki beberapa turunan, diantaranya :

Model Kontingensi Fiedler (Fiedler’s Contingency Model)

Dalam teori model Fiedler ada dua hal yang menjadi sasaran : pertama, mengidentifikasi factor-faktor yang sangat penting situasi, kedua, memperkirakan gaya atau perilaku pemimpin yang paling efektif di dalam situasi tersebut.

Dalam kesimpulan penelitiannya, Fiedler menyimpulkan ; ada tiga macam elemen penting yang akan menentukan gaya atau perilaku kepemimpinan yang efektif : Pertama, hubungan antara pemimpin dengan pengikut, makdusnya bagaimana tingkat kualitas hubungan yang terjadi antara atasan dengan bawahan. Sikap bawahan terhadap watak dan kepribadian serta kecakapan atasan. Kedua, struktur tugas, maksudnya di dalam situasi kerja, apakah tugas-tugas telah disusun ke dalam pola-pola yang jelas atau sebaliknya. Ketiga, kewibawaan kedudukan pemimpin. Bagaimana kewibawaan formal pemimpin dilaksanakan terhadap bawahan. Dari ketiga variable tersebut, Fiedler kemudian merumuskannya kedalam delapan kombinasi yang dirasakan sangat berpengaruh terhadap kepemimpin.

Teori Tiga Dimensi Reddin

Tiga dimensi ini membentuk tiga kuadran yang masing-masing terdiri dari empat gaya kepemimpinan.

Dimensi pertama, kuadran kurang efektif; dengan empat gayanya yakni: Deserter,artinya: tidak ada rasa keterlibatan, moral rendah, sukar diramalkan. Autocrat,artinya; keras kepala. Compromiser,artinya; tidak berpendirian tetap, tak ada keputusan, berpandangan pendek. Missionary, artinya ; sikap menggampangkan, penolong, lemah.

Dimensi kedua kuadran efektif, empat gayanya yaitu: Separated, artinya terpisah. Dedicated, artinya mengabdikan diri. Integrated, artinya tulus, dan Related, artinya kekeluargaan.

Dimensi ketiga, kuadran sangat efektif, empat gayanya adalah:

-        Beureaucrat, artinya: patuh peraturan, manusia organisasi, lugu/tanpa tedeng aling-aling.

-        Benevolent autocrat, artinya: lancer dan tertib, ahli mengorganisasikan, besar rasa keterlibatan diri.

-        Executive, artinya: bermutu tinggi, memberi motivasi dengan baik, berpandangan luas.

-        Developer, artinya: kreatif, memberi pelimpahan wewenang dengan baik, berpandangan luas. (Whajosumidjo:1992:h:74)

Tidak semua gaya dasar efektif untuk semua situasi. Factor situasi sangat menentukan keefektifan suatu gaya dasar perilaku. Pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat akan menunjang keberhasilan. Agar pemimpin berhasil memimpin anggotanya, dia harus memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal situational sensitifity skill dan situation management skill.

Teori Kepemimpinan Situation Hersey dan Blanchard

Teori situational inilah yang akan menjadi landasan teori penelitian yang akan peneliti lakukan pada subjek penelitian. Teori situational Hersey dan Blanchard merupakan hasil turunan dari teori tiga dimensi Reddin. Pembahasan teori situational Paul Hersey dan Kenneth Blanchard akan dibahas pada sub bab berikut.

Teori Kepemimpinan Situational Paul Hersey dan Kenneth Blanchar

Dalam model yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Kenneth Blanchard di Centre for Leadership Studies digunakan untuk istilah “perilaku tugas” dan “perilaku hubungan” untuk menggambarkan konsep-konsep yang serupa dengan Konsiderasi dan struktur Inisial dari studi-studi universitas ohio. Keempat kuadran perilaku pemimpin yang utama diberi label berikut: Tinggi tugas dan rendah hubungan, tinggi tugas dan tinggi hubungan, tinggi hubungan dan rendah tugas; serta rendah hubungan dan rendah tugas. untuk lebih memperjelas pandangan ini akan dideskripsikan oleh bagan berikut:

Gambar 2.1: Menentukan gaya Kepemimpinan yang sesuai (Hersev:1995,H:239)

Gambar 2.1 menjelaskan bahwa ada 4 macam gaya yang bias dipakai pemimpin. Gaya tersebut beturut-turut: gaya 1 (G1), gaya 2 (G2), gaya 3 (G3) dan gaya 4 (G4). Adapun cirri-ciri pada masing-masing gaya dapat dilihat pada gambar. Dalam gambar dituliskan pada wilayah yang merupakan daerah sekitar G1 merupakan gaya direktif. Karakteristik gaya ini adalah pemimpin banyak memberi pengarahan dan sedikit memberi dukungan. Untuk daerah G2 adalah gaya melatih. Karakteristik gaya ini adalah pemimpin banyak mengarahkan dan banyak juga mendukung. Atau dengan kata lain tinggi dalam memberikan motiavasi kepada bawahan. Untuk daerah G3 adlah gaya suportif, maksudnya: pemimpin banyak mendukung tapi kurang memberikan pengarahan atau dalam gambar ini disebut tinggi hubungan namun rendah tugas. terakhir gaya 4(G4) disebut mendelegasikan, maksudnya: pemimpin kurang memberikan dukungan dan juga kurang dalam hal memberikan pengarahan.

Agar kepemimpinan seorang pemimpin efektif gaya haruslah menyesuaikan tingkat kematangan pengikut. Tingkat kematangan pengikut dibagi kedalam empat tingkatan juga. Tingkat kematangan itu berturut-turut: pertama, Matang 1(M1), karakteristik yang dimiliki oleh pengikut yang berada pada tingkat ini adalah rendah kecakapan dan rendah kommitmen; kedua, Matang 2 (M2), karakteristik yang dimiliki oleh pengikut yang berada pada tingkat ini adalah sedikit kecakapan tapi tinggi kommitmen: ketiga, Matang 3 (M3), karakteristik yang dimiliki oleh pengikut yang berada pada tingkat ini adalah tinggi kecakapan namun ada variasi pada komitmen; keempat, Matang 4 (M4), karakteristik yang dimiliki oleh pengikut yang berada pada tingkat ini adalah tinggi kecakapan dan tinggi kommitmen.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan seseorang terdiri dari kombinasi dari perilaku tugas dan perilaku hubungan. Kedua jenis perilaku itu (tugas dan hubungan) yang merupakan inti konsep gaya kepemimpinan.

Adapun yang dimaksud dengan Perilaku Tugas adalah: Kadar upaya pemimpin mengorganisasi dan menetapkan peranan anggota kelompok (pengikut); menjelaskan aktivitas setiap anggota serta kapan, dimana, dan bagaimana cara menyelesaikannya; dicirikan dengan upaya untuk menetapkan pola organisasi, saluran komunikasi, dan cara penyelesaian pekerjaan secara rinci dan jelas.

Sementara yang dimaksud perilaku hubungan: kadar upaya pemimpin membina hubungan pribadi di antara mereka sendiri dan dengan para anggota kelompok mereka (pengikut) dengan membuka lebar saluran komunikasi, menyediakan dukungan sosio-emosional, “sambaran-sambaran psikologis”, dan pemudahan perilaku. (Hersey, 1995, h: 114)

Dari penjelasan di atas timbul pertanyaan, efektivitas kepemimpinan yang bagaimanakah yang dimaksud oleh Hersey dan Blanchard? Jawabannya adalah sebagai berikut:

Dalam model yang dikembangkan Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard di center for Leadership Studies digunakan istilah perilaku tugas dan perilaku hubungan untuk menggambarkan konsep yang serupa dengan Konsiderasi dan struktur inisiaso daristudi Universitas Ohio. Keempat kuadran perilaku pemimpin yang utama sebagai berikut: tinggi tugas dan randah hubungan, tinggi tugas dan tinggi hubungan, tinggi hubungan dan rendah tugas; serta rendah hubungan dan rendah tugas.

Keempat gaya pokok pemimpin tersebut secara esensial menggambarkan gaya kepemimpinan yang berbeda. Gaya kepemimpinan seseorang adalah pola perilaku yang diperlihatkan orang itu pada saat mempengaruhi orang lain seperti yang dipersepsikan orang lain. Karena bias saja hal ini berbeda dengan persepsi pemimpin tentang perilakunya sendiri.

Gaya kepemimpinan seseorang terdiri dari kombinasi dari perilaku tugas dan perilaku hubungan. Kedua jenis perilaku itu (perilaku tugas dan perilaku hubungan) didefinisikan sebagai berikut:

Perilaku tugas adalah: … Kadar upaya pemimpin mengorganisasi dan menetapkan peranan anggota kelompok (pengikut): Menjelaskan aktivitas setiap anggota, serta kapan, dimana, dan bagaimana cara menyelesaikannya; dicirikan dengan upaya untuk menetapkan pola organisasi, saluran komunikasi, dan cara penyelesaian pekerjaan secara rinci dan jelas.

Perilaku hubungan adalah: kadar upaya pemimpin membina hubungan pribadi di antara mereka sendiri dan dengan para anggota kelompok mereka (pengikut) dengan membuka lebar saluran komunikasi, menyediakan dukungan sosio-emosional “sambaran-sambaran psikologis”, dan pemudahan perilaku… (Hersey:1995, h:114)

Konsep Dasar Kepemimpinan Situasional Hersey dan Blanchard

Hersey Blanchard menyatakan “…studi-studi empiik cenderung menunjukkan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan normative atau terbaik. Pemimpin yang efektif mengadaptasi perilaku mereka untuk memenuhi kebutuhan pengikut mereka dan lingkungan. Apabila para pengikut mereka berbeda, maka mereka harus diperlakukan secara berbeda pula. Oleh karena itu, efektivitas bergantung pada pemimpin, pengikut, dan variable situasi lainnya : E = f (p, p, s). dengan demikian setiap orang yang berkepentingan atas keberhasilannya sendiri sebagai seorang pemimpin, maka ia harus mencurhkan pikiran serius terhadap pertimbangan-pertimbangan perilaku dan lingkungan ini. (Hersey : 1995 h:123).

Paragraf ini akan menjelaskan apa yang dimaksud situasi di atas. Dalam membagi gaya kepemimpinan Hersey dan Blanchard membagi gaya kepemimpinan  ke dalam empat gaya. Berturut-turut adalah Gaya 1 disebut dengan direktif, gaya 2 diistilahkan dengan melatih, gaya 3 disebut dinamakan suportif dan gaya 4 disebut dengan mendelegasikan. Sementara di pihak pengikut, Hersey membaginya ke dalam empat tingkatan kematangan yakni, matang 1, matang 2,         matang 3, dan matang 4, criteria masing-masing gya pemimpin serta karakteristik masing-masing tingkat kematangan bawahan akan dijelaskan pada subbab selanjutnya.

Menentukan Gaya Kepemimpinan yang efektif

Kepemimpinan disebut efektif bila seorang pemimpin memakai gaya yang sesuai dengan tingkat kedewasaan anggota. Kedewasaan anggota meliputi dua hal yakni kedewasaan dalam bekerja dan kedewasaan psikologis (kemauan dan motivasi). Dalam tulisannya yang terbaru ada sedikit perubahan yang dilakukan Blanchard yang mana ia menyebutkan; kematangan pengikut yang harus diketahui pada diri pengikut meliputi : Pertama, kecakapan artinya : fungsi pengetahuan dan keahlian yang diperoleh dari pendidikan, pelatihan, atau pengalaman. Kedua, komitmen artinya perpaduan antara keyakinan dan motivasi. Keyakinan dan motivasi. Keyakinan maksudnya ukuran kepercayaan diri seseorang yang menyebabkan mampu melakukan tugas dengan baik tanpa perlu banyak pengawasan. Motivasi lebih dapat dikatakan sebagai perhatian dan antusiasme seseorang untuk bertugas dengan baik. (Blanchard : 57).

Apabila pemimpin sudah memahami kecakapan dan kommitmen masing-masing rekannya, barulah mereka dapat dipimpin sesuai dengan tingakt kematangan mereka yang terdiri dari empat tingkat juga, yakni :

P1 (Perkembangan 1/matang tkt. 1) : kecakapan rendah, komitmen rendah.

P2 (Perkembangan 2/matang tkt. 2) : kecakapan sedikit, komitmen sedikit.

P3 (Perkembangan 3/matang tkt. 3) : kecakapan tinggi, komitmen tinggi.

P4 (Perkembangan 4/matang tkt. 4) : kecakapan tinggi, komitmen tinggi.

Dalam menghadapi tingkat perkembangan yang tidak sama pada setiap orang di organisasi perlu dibedakan perlakuan terhadap pengikut yang berbeda-beda tingkat kematangan itu. Gaya yang dipakai untuk menyelaraskan tingkat perkembangan bawahan antara lain :

G2 (Gaa 1) disebut          direktif, artinya : pemimpin banyak memberi pengarahan dan sedikit memberi dukungan

G2 (Gaya 2) disebut        melatih, artinya : pemimpin banyak mengarahkan dan banyak juga mendukung

G3 (Gaya 3) suportif, maksudnya : pemimpin banyak mendukung tapi kurang memberikan pengarahan

G4 (Gaya 4) mendelegasikan, maksudnya : pemimpin kurang memberikan dukungan dan juga kurang dalam hal memberikan pengerahan.

Dengan memahami terlebih dahulu tingkat kecakapan dan motivasi rekan terhadap tugas-tugas organisasi, maka pemimpin dapat dengan mudah menentukan gaya yang efektif.

Sebagai contoh apabila dalam suatu organisasi pemimpin menemukan seorang pengikut yang memiliki semangat kerja yang rendah dalam pelaksanaan tugas membuat notulensi rapat minggunan yang ditugaskan kepadanya, pengikut adalah orang yang juga baru bergabung dengan perusahaan  tersebut. Maka kematangan pengikut tersebut dikategorikan ke tingkat matang 1. Untuk itu menurut Hersey dan Blachartd pemimpin harus memberlakukan gaya 1 (direktif), yakni pemimpin lebih banyak mengajarkan pengikut tersebut teknik pembuatan notulensi tersebut dengan haya sedikit melakukan “sambaran-sambaran psikologis”, seperti hanya sedikit membukan komunikasi yang bersifat sosio-emosional.

Untuk contoh pemakaian gaya 2 (melatih; pemimpin banyak mengarahkan dan banyak juga mendukung), hal ini bias digunakan saat pemimpin mengetahui bahwa pengikut hanya memiliki kecakapan yang rendah tapi komitmen tinggi. Dengan demikian pemimpin hanya diminta menonjolkan pengarahan dalam mengawasi kinerja pengikutnya dengan membuka sedikit lebih lebar komunikasi yang bersifat sosio-emosional, dengan demikian pengikut tetap merasa nyaman.

Adapun jika pemimpin menemukan kondisi kematangan pengikutnya berada pada tingkat kematangan 3 (kecakapan tinggi, komitmen bervariasi), maka agar kepemimpinan pemimpin efektif ia harus memakai gaya 3 untuk hal ini. Dimana gaya 3 tersebut pemimpin membuka pintu komunikasi sosio-emosional yang selebar-lebarnya sehingga dia banyak memberikan dukungan yang membangun kekuatan komitmen pengikut yang sempat goyah, sementara dalam hal memberikannya latihan bahkan arahan tidak terlalu dominan untuk diperlihatkan oleh pemimpin kepada pengikut yang matang 3 ini.

Untuk gaya digunakan pada saat si pemimpin menjumpai pengikutnya sedang berada pada situasi matang 4 (kecakapan tinggi, komitmen juga tinggi). Dari situasi pengikut seperti tidak ada masalah, sehingga pilihan gaya yang efektif yang akan dipakai pemimpin untuk menghadapi si pengikut yang pandai ini adalah mendelegasikan tugas. pemimpin ibarat menjalin kerja sama dengan banyanganya, artinya tidak ada masalah dalam diri pengikut.

Demikianlah deskripsi bagaimana Hersey Blachard menganjurkan pemakaian gaya yang efektif. Dengan kondisi yang demikian, maka ada satu hal yang perlu diperhatikan sebelum memberlakukan satu gaya terhadap kematangan pengikut pada satu macam pekerjaan, yakni pemimpin harus benar-benar tahu seberapa dewasakah pengikutnya. Dimana kedewasaan disini adalah kedewasaan dalam hal kecakapan dan komitmen. Apabila salah mendiagnosa, di tingkat kematangan berapakah pengiktu maka pemimpin akan salah juga dalam memilihkan gaya yang tepat pada pengikut tersebut, akhirnya akan menyebabkan kepemimpinannya tidak efektif.

Kesimpulan

Tidak teori kepemiminan yang unggul. Masing-masing teori memiliki keunggulan masing-masing. Tidak ada yang unggul, namun keunggulannya terjadi ketika kita mampu mengkombinasikan teori-teori tersebut. Walaupun begitu ada jauh-jauh hari asulullah sudah menganjurka umatnya dalam sebuah hadis, berbicaralah kamu menurut bahasa (tingkat kecerdasan penalaran) lawan bicaramu. Kalau direnungkan hadis ini bisa diartikan kepemimpinan itu harus disesuaikan dengan siapa kita berinterkasi, apakah dengan seseorang yang cerdaskah/ paham dengan pemahaman yang jauh kedepan terhadap tugasnya, atau dngan orang yang belum tah sama sekali apa yang harus dia lakukan.


1 Response to “Telaah Atas Teori-Teori Kepemimpinan Yang Efektif”


  1. Desember 3, 2009 pukul 2:24 am

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: