PARADIGMA PENDEKATAN PSIKOLOGI ISLAM*

Oleh: Hayati Nizar

(Guru Besar Psikologi Islam IAIN IB Padang)

A. Pendahuluan

Kata ”paradigm” dalam bahasa Inggeris berarti ”model” atau  ”pola” (John M. Echols & Hasan Shadili, 1990:417). Ali Mudhafir (1992: 114-115)  mengemukakan  beberapa pendapat tentang pengertian ”paradigma” di antaranya  yang dikemukakan oleh: a)  Freidrichs Robert yang mengungkapkan bahwa  paradigma adalah suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalannya,. b) Thomas Samuel Kuhn yang menjelaskan bahwa paradigma yaitu  cara-cara meninjau benda-benda; asumsi yang dipakai bersama yang mengatur pandangan dari suatu zaman dan pendekatannya dalam masalah-masalah ilmiah; c) G. Ritzer yang mengungkapkan bahwa paradigma adalah pandangan fundmental  tentang apa yang menjadi pokok persoalan dalam ilmu. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian paradigma yakni pandangan fundamental/mendasar atau menjadi asumsi dasar dan sekaligus aturan main dalam suatu disiplin ilmu.

Jamaluddin Ancok dan Fuad Nashori (1995: xii)  mengemukakan bahwa dalam bidang psikologi  telah lahir paradigma  dalam melakukan studi terhadap  manusia sesuai dengan aliran-aliran psikologi  yang ada. Paradigma tersebut  misalnya,  Wilhem Wundt, tokoh  psikologi Strukturalisme  memakai paradigma ”kesadaran”; Sigmund Freud; tokoh Psikoanalisa menggunakan paradigma ”ketaksadaran”; J. B. Watson, tokoh Behaviorisme menggunakan  paradigma ”objektif”; dan Abraham Maslow, tokoh psikologi Humanistik menggunakan paradigma ”humanistik” atau ”kemanusiaan”

Paradigma ilmu pengetahuan modern atau sains adalah objektivitas dan rasionalitas. Suatu studi dikatakan ilmiah apabila memiliki sifat objektif dan rasional. Rasionalitas  dan objektivitas menilai kebenaran pada dirinya sendiri dan pada hakikatnya bersifat relatif. Ajaran agama Islam  memberitahukan bahwa dunia objektif atau dunia empiris itu semu  Umat  Islam memerlukan  acuan                   yang mutlak, tidak berubah seiring dengan pergeseran zaman dan  perubahan peradaban masyarakat  yaitu al-Qurān dan Hadis.

B. Pendekatan al-Qurān dan Hadis

M. Izzuddin Taufiq (2006: 28-53) mengemukakan tiga kelompok sikap umat Islam dalam memberikan respon terhadap ide untuk  rekonstruksi Islami  bagi studi kejiwaan. Pertama, sikap menentang dari kalangan Islam secara umum dengan alasan bahwa  Islam sangat kaya dan tidak memerlukan rekonstruksi. Di samping itu kebudayaan  mereka tidak memperbolehkan mereka  untuk membahas  studi kejiwaan secara spesifik.

Kedua,  sikap menentang dari kalangan psikologi sendiri karena mereka meragukan  perwujudan  rekonstruksi tersebut. Berkenaan dengan hal itu, Ismail Faruqi  yang  gencar  mengupayakan Islamisasi ilmu pengetahuan  mengemukakan keluhannya bahwa  dalam lembaga di mana ia melakukan penelitian terdapat seratus ribu anggota yang menyandang gelar  magister dan doktoral, namun sedikit sekali yang dapat  diperhitungkan keberadaannya, yang memiliki pemikiran kritis dalam memberikan  label Islami.  Banyak  dari mereka hanya mengekor kepada  hasil kajian barat dan tidak peduli dengan rekonstruksi ini, bahkan menjadi orang yang paling ragu dan memandang mustahil  perwujudannya dan lebih jauh melakukan provokasi terhadapnya.

Ketiga, menerima  pemikiran rekonstruksi dan terlibat aktif untuk mewujudkannya.  Sikap ini muncul dari kesadaran  bahwa psikologi barat telah maju dengan pesat dan pengaruhnya telah  dirasakan  dalam penelitian ilmiah. Dalam hal ini dia mencontohkan peradaban yang telah maju misalnya bangsa Amerika  dengan kesadaran terhadap budaya  mereka cukup  berpengaruh pada dunia ilmu pengetahuan pada umumnya, termasuk psikologi. Kesadaran ini memunculkan  label ”Amerika” di segala bidang. Semua seolah  mengikuti model atau pola, ala Amerika baik dalam melakukan penelitian, cara pikir, bertingkah laku, dan gaya hidup. Semuanya itu  membentuk karakteristiknya sendiri dan berupaya membangun pusat penelitian  jiwa manusia yang tujuannya bukan semata-mata untuk kajian ilmiah, tetapi buat mengadakan perubahan. Berkenaan dengan ini dapat dikemukakan pola yang ada misalnya pada bangsa Israel (Zionisme), Gereja Koptik (Kristen), dan Uni Sovyet (Komunis).

Pola Israel dengan cara mengukuhkan rasa berbudaya dan beragama  pada bangsa Yahudi dengan memfungsikan ilmu sosial melalui penelitian akademis, perkuliahan, dan badan informasi yang ada baik di dalam negara Israel sendiri maupun di luar. Di sisi lain, mereka menghapus kebudayaan Arab dan Islam pada bangsa Palestina dengan menggunakan ilmu sosial dan merealisasikannya.  Mereka  memiliki berbagai pusat kajian dan penelitian untuk tujuan tersebut.

Gereja Koptik, pola yang dilaluinya lebih mengarah kepada psikologi terapan dengan menjadikan penelitian psikologi sebagai sarana dakwah agama Nasrani dan menanamkan pentingnya agama dalam kesehatan jiwa. Para pastor dan pendeta  mengadakan konseling agama dalam melayani umat  yang dilaksanakan di rumah sakit jiwa, sekolah, karang taruna, dan berbagai institusi lainnya. Di samping itu, mereka juga mengadakan muktamar kesehatan jiwa bagi para agamawan.

Pola yang digunakan oleh Uni Soviet setelah kemenangan komunis adalah dengan mengukuhkan  Marxisme baik dari segi teori maupun terapannya.  Dari sisi teori  ditekankan beberapa konsep yakni konsep mutlak, konsep stimulus respon, konsep pengalaman masa lalu, dan konsep kontradiksi atau konflik. Konsep mutlak  yaitu fenomena kejiwaan yang terjadi adalah mutlak  memiliki sebab akibat. Stimulus respon maksudnya bahwa semua fenomena kejiwaan adalah stimulus respon yang dikondisikan. Pengalaman masa lalu yaitu bahwa fenomena kejiwaan hanya dapat dipahami  dari runtutan sejarah perkembangan individu dalam masyarakat.  Konsep kontradiksi/konflik yakni  pertumbuhan individu ditentukan oleh pertentangan antara motivasi dan norma-norma  yang ada dalam masyarakat.

Dari sisi terapan, pandangan komunis beranggapan bahwa penyimpangan kejiwaan muncul lantaran strukturisasi yang terdapat dalam masyarakat yang mengarah kepada kezaliman, pengangguran, dan hilangnya HAM.  Terapi yang ditekankan dalam pola ini adalah terapi kerja.

Dengan timbulnya kesadaran ini, maka umat Islam  perlu merekonstruksi studi psikologi dengan  memulai dari sumber ajaran Islam yakni al-Qurān dan Hadis. Dalam studi ini digunakan istilah ”Psikologi Islam”, bukan ”Psikologi Islami” dengan memakai ”ya” nisbah yang  mengindikasikan pensifatan dimaksudkan untuk memotivasi bahwa kajian psikologi perlu bertolak dari  sumber ajaran Islam, bukan kajian yang  dipandang  sejalan dengan atau bernuansa Islam. Dengan istilah tersebut, para ahli yang melakukan studi terhadap psikologi dengan sendirinya  tersugesti untuk memulainya dari al-Qurān dan Hadis.

M. Usman Najati, (1985: 7-8)  mengemukakan bahwa umat Islam perlu  merujuk kepada al-Quran dan Hadis, kemudian menelusuri  perkembangan pemikiran tentang kajian kejiwaan yang dilakukan oleh  para pemikir muslim terdahulu. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahuai secara benar tentang konsep-konsep kejiwaan Islam, agar  dapat melandasi  penelitian-penelitian berikutnya. Ia juga mengeritik psikologi modern yang memakai metode penelitian  ilmu fisika yang bertumpu kepada  realitas empiri objektif yang pada hakikatnya ilmu ini kehilangan roh yang menjadi objek utama dari penelitian ilmu jiwa.

Fuad Nashori (2002: 61-68) berpendapat  bahwa studi yang dilakukan umat Islam terhadap psikologi  dapat dibagi kepada empat pola yakni 1) perumusan psikologi dengan bertitik tolak  dari al-Qurān dan Hadis; 2) perumusan psikologi  bertitik tolak dari khazanah keislaman; 3) perumusan psikologi dengan mengambil inspirasi dari khazanah psikologi modern dan membahasnya dengan pandangan dunia Islam; dan 4) merumuskan konsep manusia berdasarkan pribadi yang hidup dalam Islam.

Hanna Djumhana Bastaman (2005: 222) juga mengungkapkan bahwa studi terhadap manusia harus dicari dalam al-Qurān karena kitab suci tersebut merupakan samudera keilmuan maha luas dan kedalaman yang tak terhingga. Abdul Mujib (1999: ix-x) mengemukakan tiga tipe studi terhadap kejiwaan dalam Islam  yaitu 1) Islam dijadikan pisau analisis bagi pengkajian psikologi; 2) sebaliknya, psikologi dijadikan pisau analisis dalam memecahkan persoalan-persoalan psikologis umat Islam; 3) menggali psikologi dari al-Qurān dan Hadis.

Aliah B. Purwakania Hasan (2006:14) juga mengemukakan bahwa umat Islam memerlukan  metode penelitian yang sesuai untuk mengembangkan psikologi dalam perspektif Islam. Untuk itu perlu dilihat  ayat-ayat  qauliyah dan kauniyah. Ayat qauliyah berasal dari al-Quran dan Hadis, sedangkan ayat kauniyah berasal dari  pengamatan alam semesta. Pendekatan yang  lebih pas untuk psikologi Islam adalah gabungan antara  metodologi Tafsir al-Quran dan Hadis serta metode ilmu pengetahuan modern pada umumnya.

Baharuddin (2004: 343-345) berupaya menghadirkan paradigma Psikologi Islami dengan  berangkat dari al-Qurān  dan Hadis, dengan keyakinan bahwa keduanya sebagai sumber ilmu pengetahuan. Penelitian yang dilakukannya untuk Disertasi berupaya berangkat dari al-Qurān dengan mengungkap kata ”al-basyar, al-ins, al-insān, al-nās, al’aql, dan al-rûh yang tercantum dalam al-Qurān.           Dari pendapat-pendapat yang telah dikemukakan di atas kita berkesimpulan bahwa titik tolak yang digunakan dalam penelitian psikologi Islam  adalah  al-Qurān dan Hadis.

C. Al-Qurān dan  Penafsirannya

Al-Qurān yang diturunkan kepada Rasul untuk menjadi panduan bagi manusia menjadi sumber inspirasi buat pengembangan ilmu, karena panduan ini berisikan isyarat-isyarat  ke arah itu. Agar isyarat tersebut dapat dipahami, diperlukan penafsiran.

Secara historis  dapat diketahui bahwa para ulama  terdahulu berupaya memahami al-Qurān dengan menafsirkannya. Sahabat Rasul senantiasa mengacu kepada inti kandungannya  dengan melihat hukum dan penjelasan  dari ayat-ayat yang berisikan nasehat, petunjuk, kisah-kisah agamis yang dapat diambil dari redaksi ayat. Seandainya  redaksi ayat tidak dapat dipahami, maka para sahabat merujuk kepada hal-hal yang mereka ketahui tentang sebab-sebab turun ayat. Sekiranya  sebab-sebab turun ayat itu tidak diketahui pula, maka para sahabat mendiskusikannya.

Pada masa khilafah bani Umayyah dan bani ’Abbasiyah, penafsiran al-Qurān mengacu kepada Hadis di mana yang menjadi perhatian adalah bagaimana sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in menafsirkannya. Penafsiran dilakukan dengan cara mengumpulkan Hadis-hadis  yang berfungsi menafsirkan al-Qurān menurut urutan ayat-ayat di dalam Mushhaf ’Usmaniy. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, para ulama Tafsir  mulai  memasukkan analisa gramatika bahasa, sastra, dan pemikiran sesuai dengan bidang yang diminatinya (Ali Hasan al-’Aridh terj.1992:15-23).

Secara umum, Quraish Shihab (1992: 83-84) membagi corak penafsiran kepada dua bentuk yakni tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi. Tafsir bi al-ma’tsur yaitu menggunakan riwayat dengan memperhatikan bahasa dan syair-syair pra Islam dalam penafsiran  sebagaimana dilakukan pada masa sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in. Penafsiran jenis ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Diantara kelebihannya adalah menekankan pentingnya bahasa  dalam memahami al-Quran; memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesan al-Quran; dan mengikat penafsir dalam bingkai teks ayat sehingga membatasinya terjerumus dalam subjektivitas yang berlebihan. Kekurangannya antara lain terabaikannya pesan-pesan utama al-Quran dan sebab-sebab turun ayat lantaran uraian kebahasaan dan kesusasteraan terlalu panjang dan mendetail.

Corak  tafsir bi al-ma’tsur saja tidak dapat dipertahankan, karena wilayah Islam bertambah luas dan penduduk di wilayah tersebut tidak semua memakai  bahasa  Arab sebagai bahasa harian. Rasa (zuq) bahasa al-Quran hanya dimiliki oleh  penafsir  yang  menggunakan  bahasa Arab sebagai bahasa ibu namun  tidak  demikian pada penafsir  yang  berbahasa selain bahasa Arab (’ajam). Disamping itu  ilmu pengetahuan berkembang  pesat dan membutuhkan  penafsiran dengan menggunakan penalaran atau memanfaatkan ijtihad dan disebut tafsir bi al-ra’yi. Penafsiran semacam ini lebih menekankan kepada bidang yang diminanti oleh  penafsir dan dengan demikian terdapat pengelompokan buku-buku tafsir kepada beberapa corak yakni: 1) Tafsir ŝūfiy yaitu penafsiran  yang menggunakan analisis tasawuf[1] dalam memberikan penjelasan 2) Tafsir fiqhi yakni penafsiran al-Qurān dengan mengeluarkan hukum-hukum dari ayat-ayat yang ditafsirkan. 3) Tafsir falsafiy dengan menggunakan analisis filsafat dalam menafsirkan ayat. 4) Tafsir adabiy adalah penafsiran yang menggunakan analisis peradaban masyarakat sepanjang sejarah dalam menafsirkan ayat. 5) Tafsir ’ilmiy yaitu menafsirkan ayat-ayat  tentang alam (kauniyah) dengan menggunakan analisis berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang.

Tafsir ’ilmiy atau penafsiran ilmiah diperdebatkan oleh para ulama terdahulu, ada yang menerima dan ada yang menolak, namun M. Izzuddin Taufiq (2006: 64-66) mencoba mengambil posisi tengah dengan memberikan definisi sebagai  penafsiran yang dipahami oleh  orang  umum dengan mendayagunakan ilmu alam dan ilmu humaniora sebagai sarana dalam  memahami ayat-ayat al-Qurān yang lebih luas, lalu mengelompokkannya sesuai dengan topik-toipk yang berkaitan dengan ilmu tertentu. Dalam melakukan penafsiran ilmiah, tidak  dibenarkan  mengikuti kemauan pikiran sendiri, tetapi harus  mengacu kepada  persyaratan umum yang perlu dipenuhi oleh penafsir.

Persyaratan umum itu sebagaimana dikemukakan oleh Quraish Shihab (1992:79) yaitu: a) memiliki pengetahuan tentang bahasa Arab dalam berbagai bidangnya; b) memiliki pengetahuan tentang ilmu-ilmu al-Qurān, sejarah turunnya, hadis-hadis Nabi, dan ushul fiqh;  c) memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip pokok agama; dan d) memiliki pengetahuan tentang disiplin ilmu yang menjadi materi bahasan ayat.

Bentuk penafsiran ilmiah sebagaimana dikemukakan oleh    M. Izzuddin Taufiq (2006: 66-70)  dapat diklasifikasikan kepada tiga arah. Pertama,  memberikan perluasan makna  terhadap ayat-ayat al-Qurān dan Hadis Rasul disertai dengan bukti-bukti penemuan baru.  Kedua,  penjelasan  atau  penemuan baru  menjadi bukti  atas keotentikan al-Quran dan Hadis. Ketiga, mengklasifikasikan  sejumlah ayat dan Hadis pada topik kajian atau keilmuan tertentu sehingga menggambarkan arah yang islami.

Cara atau metode yang digunakan  dalam penalaran dikelompokkan oleh  al-Farmawi sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab (1992: 85-87)  kepada empat cara atau metode yakni tahliliy, ijmaliy, muqaran, dan maudhu’iy. Tahliliy adalah  penafsiran yang dilakukan dengan menguraikan atau  menjelaskan kandungan  ayat-ayat dan surat-surat secara berurutan sesuai dengan urutannya di dalam mushhaf. Cara yang dilakukan biasanya dimulai dengan menguraikan kosa kata dan arti yang dimaksudkan; sasaran dan kandungan ayat; unsur-unsur kesusasteraan; hukum yang dapat dikeluarkan dari ayat; norma-norma akidah serta akhlak; perintah; larangan; janji dan ancaman;  kaitan antar ayat; dan keterpautan antara ayat yang ditafsirkan dengan ayat yang sebelum dan sesudahnya. Juga dikemukakan tentang sebab-sebab turun ayat (asbāb al-nuzūl). Dengan metode ini banyak hal yang dapat dijelaskan dari suatu ayat, hanya saja membutuhkan waktu yang relatif lama.  Metode ini banyak digunakan oleh para ulama  terdahulu misalnya, al-Alūsiy, Fakhr al-Rāziy, al-Qurthubiy,  Ibnu Jarir al-Thabariy, dan lainnya.

Metode ijmaliy kebalikan dari tahliliy yakni penafsiran  ayat dilakukan secara  singkat dan global, tanpa uraian yang panjang  lebar. Penafsir membatasi penjelasannya tentang  pengertian ayat dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai dengan urutan ayat dan surat dalam mushaf. Yang  termasuk ke dalam penafsiran jenis ini antara lain buku tafsir  Al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, Tafsīr al-Qurān oleh Ahmad al-Marāghiy,  Tafsīr al-Qurān al-Karīm karya Mahmud Syaltut, dan Tafsīr al-Wādhih oleh Muhammad Mahmud Hijāziy.

Metode muqāran yakni menafsirkan ayat dengan cara mengambil sejumlah ayat dan membandingkan penafsiran yang dikemukakan oleh beberapa ulama tafsir, kemudian menganalisisnya dengan melihat kecenderungan penafsir, lalu mengambil kesimpulannya. Dengan metode ini, penafsir dituntut kemampuannya dalam menganalisis pendapat-pendapat  para ulama  tafsir yang diteliti, kemudian menentukan sikap dengan penalaran yang jelas dan logis untuk menerima atau menolak penafsiran ulama tersebut.

Metode maudhūiy atau tematik yaitu menghimpun ayat-ayat  yang  berbicara tentang suatu masalah atau tema. Menurut ‘Ali Hasan al-’Aridh bahwa cara ini  dapat  mengantarkan pada hakikat suatu masalah dengan efektif dan efisien. Selanjutnya, Quraish Shihab (1992:117) juga mengemukakan  bahwa metode ini lebih baik karena menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadis yang disepakati kesahihannya dapat memberikan kesimpulan yang mudah dipahami. Di samping itu cara ini  dapat membawa kepada petunjuk yang tepat dan membuktikan bahwa ayat-ayat  al-Qurān menyentuh berbagai permasalahan dan beragam segi kehidupan serta sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Juga membuktikan bahwa ayat-ayat al-Qurān tidak bertentangan antara satu dengan lainnya.

Dengan penafsiran ayat dengan ayat ini, Ibnu Khaldun berpendapat sebagaimana dikemukakan oleh Dawam Raharjo (2005:11, 23) bahwa kaum muslimin tidak mengalami kesulitan dalam memahami al-Quran. Dawam juga mengungkapkan bahwa  pertama kali tertarik kepada penafsiran al-Qurān, dia berupaya  menafsirkan ayat dengan ayat. Menurutnya ini dapat dilakukan oleh ilmuwan atau ulama di Indonesia sekalipun oleh orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Arab, karena dewasa ini terdapat mushaf bersama terjemahnya.

D.  Hadis dan Cara  Memahaminya.

Hadis  secara semantis bahasa berarti ”baru (jadīd)”, lawan dari ”lama (qadīm).”   Secara terminologis, Hadis adalah segala sesuatu yang muncul dari Rasul Muhammad S.A.W berupa perkataan, perbuatan, taqrir,  dan sifat. Di sini Hadis dan sunnah memiliki pengertian yang sama sebagaimana dikemukakan oleh Raf’at Fauzi ’Abd al-Muthallib (1400 H/1981 M: 19).

Secara umum, Hadis-hadis Rasul meliputi dua hal yakni sanad dan matan. Sanad yaitu orang-orang yang menerima dan menyampaikan atau dengan istilah lain orang-orang yang dilalui oleh Hadis. Matan yakni lafaz atau redaksi Hadis. Ketika suatu Hadis dijadikan sebagai sumber ajaran Islam, maka tinjauan terhadap kualitas sanad dan matan  amat diperlukan.

Pada  awal agama Islam disebarkan oleh Rasul Muhammad, Hadis belum dituliskan karena dikhawatirkan  tercampur dengan al-Qurān yang dapat  mengakibatkan pencemaran kemurnian al-Qurān itu sendiri.  Terdapat perbedaan pendapat para ulama tentang penulisan Hadis pada masa Rasul, namun mereka sepakat bahwa perhatian terhadap Hadis secara khusus dimulai pada masa ’Umar ibn ’Abdul ’Aziz menjadi khalifah (99-102 H / 717-720 M). Ia menganjurkan  para ulama untuk memperhatikan Hadis Rasul dan menghimpunnya. Secara  khusus ia menugaskan  Ibnu Syihab al-Zuhri  untuk menghimpun Hadis-hadis.

Sekalipun  perhatian khusus terhadap Hadis baru dimulai pada masa Umar ibn ’Abdul ’Aziz dan dalam rentang waktu yang relatif lama telah terjadi perubahan politik pemerintahan, perkembangan wilayah, dan berbagai perubahan sosial lainnya namun  umat Islam  sangat berhati-hati  dalam  menerima  dan  menjadikan Hadis sebagai sumber ajaran yang dapat diperpegangi. Mereka  menjaga kemurnian Hadis dengan melakukan penelitian terhadap sanad dan matan Hadis. Hasil-hasil penelitian mereka terhimpun dalam kitab-kitab Hadis yang dapat diperpegangi (mu’tamad) yakni kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sahih Turmuzi, Sunan Nasā i, al-Muwaththa! karya Imam Malik, dan Musnad karya Ahmad ibn Hanbal. Kitb-kitab Hadis tersebut dapat dijadikan rujukan dalam menghimpun Hadis-hadis berkenaan dengan Psikologi Islam.

Sehubungan dengan paradigma pendektan Psikologi Islam, maka keberadaan Hadis dapat  digunakan  dalam dua fungsi. Pertama, berfungsi sebagai penjelas atau penafsir ayat-ayat al-Quran yang dikaji. Kedua, sebagai titik tolak penelitian dengan menghimpun Hadis-hadis secara tematis. Hal ini dilakukan dengan keyakinan bahwa Muhammad S.A.W adalah pemimpin umat yang  memiliki kepribadian sempura sebagai insān kāmil, oleh karenanya segala sesuatu yang bersumber daripadanya dapat dijadikan sebagai acuan berperilaku. Untuk memahami matan Hadis diperlukan ilmu yang berkaitan dengan Bahasa Arab dan Ushul Fiqh.

Adapun ilmu yang berkaitan dengan Bahasa Arab meliputi hal-hal sebagaimana dikemukakan oleh Abu Yasir al-Hasan al-’Alamiy (tt.: 251-286) berikut:

1)      Derivasi kata dan pengertiannya. Umumnya suatu kata dalam bahasa Arab, akar katanya tiga huruf, sebagian kecil  saja yang berakar pada empat huruf. Sebagai contoh dikemukakan misalnya, kata ”astaghfiru”( استغفر ) akar katanya  “ghafara” ((غفر yang berarti “mengampuni”. Istaghfara-yastaghfiru (استغفر – يستغفر )  diberi imbuhan di depannya  dengan “ista”  ( است  ) berubah  pengertiannya menjadi “meminta ampun”. Astaghfiru (  أسستغفر ) dengan  ”hamzah” ( أ )    di depan berarti ”saya minta ampun”.

2)       Kaedah nawu dan sharaf (gramatika bahasa Arab)

3)      Ilmu Balaghah (sastra) dan susunan bahasa Arab.

4)      Syi’r-syi’r yang berkembang pada pra dan awal Islam serta bermanfaat untuk menafsirkan matan Hadis yang kurang populer.

5)      Kebiasaan bangasa Arab  dalam menggunakan kalimat antara lain:

ü  Berbeda ungkapan lahiriah  dengan maksud yang sebenarnya misalya, orang ’Arab mengungkapkan ”  ” قا تله الله ما أشعره yang artinya ”semoga Allah memerangi apa yang diinformasikannya” pada waktu memuji ucapan seseorang, padahal dalam hatinya ”tidak menginginkan seperti itu”.

ü  Menghilangkan sebagian kata untuk memendekkan (mukhtashar) kalimat misalnya, Hadis riwayat Abu Dawud ”من قطع سدرة صوب الله رأسه في النار ” (siapa yang memangkas pohon sidr, Allah mengarahkan kepalanya ke dalam api). Menurut Abu Dawud bahwa Hadis ini dipendekkan (mukhtashar)  maksud sebenarnya ”siapa yang memangkas pohon sidr di lapangan terbuka di mana tempat bernaung orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan hewan dengan tujuan bermain-main dan keaniayaan tanpa hak (tanpa alasan yang dibenarkan), akan diarahkan kepalanya oleh Allah ke dalam api (neraka).

ü  Menyembunyikan sebagian kalimat dalam pembicaraan misalnya, Hadis Abu Hurairah ”إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث “  (hati-hatilah terhadap prasangka, sesungguhnya prasangka itu adalah pembicaraan yang lebih bohong).  Menurut Khaththabi bahwa ada kata yang disembunyikan yakni ”su’ ( إياكم وسوء الظن  ) artinya hati-hatilah terhadap jahat/buruk sangka.

ü  Mengulang-ulang  dengan tujuan menguatkan informasi yang disampaikan.

ü  Berbicara kepada satu orang, tetapi menggunakan kata ganti untuk banyak orang.

ü  Mengungkapkan sesuatu dengan cara berlebihan dengan maksud kinayah (sindiran) misalnya, Hadis ’Aisyah yang berbunyi ”أسرعكن لحوقا بى أطولكن يدا “ artinya bahwa Rasul bersabda kepada para isterinya : ”yang paling cepat di antara kalian bertemu denganku adalah yang paling panjang tangannya”. Ungkapan ”paling panjang tangan” maksudnya bukan dalam pengertian hakiki, tetapi kinayah yaitu pemurah atau suka bersedekah.

ü  Menggunakan kata untuk sesuatu yang menjadi akibat dari perbuatan misalnya, Hadis Abu Hurairah yang berbunyi:                                                 ” لا ترغبوا عن أبائكم فإنه من رغب عن أبيه فقد كفر ” (janganlah membenci bapakmu, barangsiapa benci terhadap bapaknya, sesungguhnya ia kafir).  Benci terhadap bapak hukumnya sama dengan durhaka terhadap orang tua dan perilaku demikian sama dengan perilaku  orang kafir.

Mengenai pemahaman terhadap kaedah-kaedah Ushul Fiqh sebagaimana dikemukakan oleh Abu Yasir al-Hasan al-’Alamiy (t.t.: 288-388) sebagai berikut:

  1. Kalimat yang bernuansa amar (perintah)  meliputi:

ü  Menggunakan fi’il amar contoh: sabda Rasul                                                   صلوا كما رأيتمونى أصلى   artinya: salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku salat

ü  Menggunakan fi’il mudhari’ yang disertai lam amar contoh: Hadis Rasul: والله لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر –الحديث-  artinya: demi Allah, hendaklah kamu menyuruh berbuat baik dan hendaklah kamu melarang berbuat munkar….

ü  Menggunakan mashdar sebagai pengganti dari fi’il amar contoh: sabda Rasul صبرا أل ياسر فإن موعدكم الجنة artinya: sabarlah hai keluarga Yasir sesungguhnya tempat yang dijanjikan (Allah) untukmu adalah surga

ü  Menggunakan isim fi’il amar contoh: sabda Rasul   عليكم بما تطيقون مه artinya: tahanlah dirimu, hendaklah kamu melakukan apa yang kamu sanggupi

ü  Susunan kalimat dalam bentuk informasi namun bertujuan agar adanya tuntutan melaksanakan pekerjaan misalnya,  sabda Rasul  riwayat Ibnu Hibban:   أن تؤتى عزائمه  إن الله يحب أن تؤتى رخصة كما يحب   artinya: sesungguhnya Allah senang diberikan  keringanan sebagaimana Dia senang diberikan kebulatan hati/tekad.   Hadis ini susunannya dalam kalimat berita tetapi isinya perintah agar memberikan keringanan  dan memperlihatkan kebulatan tekad dalam menyelesaikan sesuatu (perbuatan/urusan).

Para ulama ushul  berpendapat bahwa  amar berkonotasi tuntutan untuk melakukan sesuatu (perbuatan) Dari segi hukum Islam, pada prinsipnya amar melahirkan hukum wajib kecuali  ada  karenah yang mengindikasikan lain misalnya menjadi sunat (nadab) atau bersifat anjuran.

  1. Kalimat yang bernuansa nahi (larangan) Secara bahasa ”nahi” berarti ”perintah untuk meninggalkan” dan secara terminologis yaitu ungkapan yang mengindikasikan tuntutan untuk  meninggalkan atau tidak mengerjakan.  Ungkapan demikian  antara lain :

ü  Fi’il mudhari’ yang disertakan dengan ”lā” nahi  sebagai contoh dikemukakan sabda Rasul riwayat Turmuzi                                            وأنفقوا فى سبيل الله ولا تلقوا بأ يديكم إلى التهلكه  artinya bernafkahlah kamu di jalan Allah dan janganlah kamu jatuhkan tanganmu ke dalam kebinasaan.

ü  Shigat amar yang artinya menyuruh untuk menjauhi misalnya,  Hadis riwayat Bukhari إجتنبوا السبع الموبقات artinya jauhilah tujuh yang mencelakakan (syirik dengan Allah, sihir, menghilangkan nyawa orang yang diharamkan, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang dalam memerangi orang kafir, dan menuduh orang berzina).

ü  Shigat nahi misalnya, Hadis yang diriwayatkan oleh Malik                        أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الثمار حتى يبدو صلاحها artinya bahwa Rasulullah s.a.w melarang menjual buah-buahan sampai jelas baik bentuknya.

ü  Ungkapan yang bentuknya informasi (jumlah khabariyyah) yang mengindikasikan larangan mengharamkan misalnya, Hadis riwayat Bukhari         ألا لايحل لكم الحمار الاهلى ولا كل ذى ناب من ااسباع artinya: ketahuilah tidak halal bagimu keledai jinak dan tidak pula segala yang memiliki taring dari binatang buas …

  1. Mengetahui umum dan khusus. Umum menurut sebagian besar  ahli ushul  yaitu kata yang berlaku umum bagi  segala sesuatu yang pantas untuknya dengan menyebutkan satu  lafaz. Khusus yakni nama untuk sesuatu yang telah ditentukan. Ungkapan yang hampir sama dengan pengertian ini adalah muthlaq dan muqayyad.
  2. Menanggungkan yang mujmal atas yang mubayyan. Mujmal yaitu sesuatu yang belum jelas dan mubayyan adalah sesuatu yang sudah jelas.
  3. Mengetahui yang zahir (menurut leterlik) dan muawwal (ditakwilkan). Yang dimaksudkan di sini adalah mengetahui pengertian lahiriyah dan pengertian yang ditakwilkan atau ditafsirkan.
  1. E. Kesimpulan

Paradigma pendekatan Psikologi Islam memulai dari al-Qurān dan Hadis, namun secara metodologis  keduanya berbeda. Penelitian  al-Qurān dan Hadis  bermuara pada penemuan kerangka konseptual dari suatu pengajian, sementara Psikologi Islam dapat melanjutkan pada pengajian lapangan dengan menggunakan parameter yang telah dirumuskan dalam psikologi barat. Hasil kajian psikologi barat dalam penyusunan skala psikologi dapat bermanfaat  misalnya, sebagai pedoman teknis dalam cara menyusun tes kepribadian,  penyusunan skala sikap, dan  beberapa parameter lainnya.

Untuk konstruksi kerangka konseptual, hasil pengajian Tafsir dan Hadis dapat dijadikan sebagai acuan. Ketika diperlukan penelitian lapangan untuk mengetahui kondisi senyatanya pada manusia dapat digunakan hasil kajian psikologi barat  yang bebas nilai. Hal ini menjadikan kerangka konseptual yang dilahirkan dari al-Qurān dan Hadis  memandu suatu penelitian  dan penggunaan parameter psikologi barat diperlakukan sebagai acuan teknis. Dengan demikian  Psikologi Islam hadir sebagai ilmu jiwa dan ilmu perilaku yang tidak kehilangan roh.

Saya pikir,  pendekatan  tasawuf yang digunakan oleh  para ulama tasawuf  terdahulu juga bermula dari al-Qurān dan Hadis, kemudian  menjabarkannya dengan  pemikiran  rasional dan rasa  keagamaan. Ini berarti bahwa pendekatan tasawuf  identik dengan pendekatan Psikologi Islam.

Daftar Kepustakaan

’Abd al-Muthallib, Rafaat Fauzi, Tautsīq al-Sunnah fī al-Qarn al-Tsaniy al-Hijriy, Mesir: Maktabah al-Khananjiy, 1400 H /1981 M

Abdurrahman, ”Ilmu Hadis sebagai Sumber Pemikiran” dalam Ensiklopdi Tematis Dunia Islam, Pemikiran dan Peradaban, jld 4, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2002

Abu Rayyah, Mahmud, Adhwa! ’Ala as-Sunnah al-Muhammadiyyah, Mesir: Dār al-Ma’ārif, cet. IV, t.t.

Al-Bukhāri, Imam Abû ’Abddillah Muhammad ibn Ismā’il ibn Ibrāhīm ibn Mughīrah ibn Bardizbah, Shahih al-Bukhāri, juz, Beirut: Dār al-Fikri, 1401 H/1981 M

Ali Mudhafir, Kamus Istilah Filsafat, Yogyakarta: Liberty, cet. I, 1992

Al-’Alamiy, Abu Yasir al-Hasan, Fiqh as-Sunnah an-Nabawiyyah, Dirayatan wa Tanzīlan, Disertasi tak diterbitkan

Atkinson. Rita L dkk. terj. Nurdjanah Taufiq & Rukmini Barhana, Pengantar Psikologi, jld. I, Jakarta: Erlangga, 1983

Al-’Aridh, Ali Hasan. Tārikh ’Ilmal-Tafsīr wa Manāhij, terj. Ahmad Akram, Sejarah dan Medodologi Tafsir, Jakarta: Rajawali, 1992.

Amal, Taufik Adnan. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Akar dan Awal, jld. I, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2002.

Al-Qurān dan Terjemahnya, Medinah: Mujamma’ Khādim al-Haramain al-Malik Fahd li aththiba’ al-Mushhaf al-Syarīf, t.t.

Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami, Studi tentang Elemen Psikologi dari l-Qurān, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. I, 2004

Badri, Malik B. The Dilemma of Muslim Psychologists, terj. Anas Mahyudin. Psikolog Islam di Lobang Buaya, Yogyakarta: Karyono,  t.t.

Bastaman, Hanna Djumhana, Integrasi Psikologi dengan Islam, Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil, 2005

Echols, John M & Hassan Sadily, Kamus Inggeris Indonesia, Jakarta: Gramedia, cet XVIII, 1990

Mujib, Abdul, Fitrah & Kepribadian Islam, Sebuah Pendekatan Psikologis, Jakarta: Darul Falah, 1999 M/1420 H

Najati, M. Usman. terj. Ahmad Rafi’i ’Usmani. Al-Quran dan Ilmu Jiwa, Bandung: Pustaka, 1405 H/1985 M.

——————— terj.  Zainuddin Abu Bakar. Psikologi dalam Perspektif Hadis, Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 1425 H/2004 M.

Nashori, Fuad, Agenda Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

Purwakania Hasan, Aliah B. Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

Rahardjo, Dawam, Paradigma al-Qurān, Metodologi Tafsir dan Kritik Sosial, Jakarta: PSAP Muhammadiyah, 2005.

Salim, Peter, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta: Modern English Press, 1991

Taufiq, M. Izzuddin, terj. Sari Narulita dkk. Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islam, Jakarta: Gema Insani, 2006.

Tim Kashiko. Kamus Arab-Indonesia, Surabaya: Kashiko, 2000.

Schultz, Duane. Growth Psychology: Models of the Healthy Personality, terj. Yustinus, Psikologi Kepribadian, Model-model Kepribadian Sehat, Yogyakarta: Kanisius, 1991.

Usman Ismail, Asep “Tasawuf” dalam  Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, jld 3, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, t.t.

PROSPEK PSIKOLOGI ISLAM*

Oleh: Hayati Nizar

(Guru Besar Psikologi Islam IAIN IB Padang)

A. Pendahuluan

Prospek diterjemahkan dari bahasa Inggeris “prospect” yang berarti “kemungkinan” atau “harapan.”  Pengertian yang  dimaksudkan dalam topik di atas adalah  kemungkinan atau harapan terhadap perkembangan Psikologi Islam ke depan. Sekalipun istilah Psikologi Islam  sebagai suatu paradigma disiplin ilmu masih dipermasalahkan, namun saya berani menggunakan istilah ini karena saya berpendapat bahwa ilmu tersebut memiliki epistimologi  yang jelas sebagaimana ilmu-ilmu Ushuluddin lainnya .

Pengajian ilmu Tafsir berkembang dengan berangkat dari al-Quran yang diyakini kebenarannya sebagai wahyu Allah kemudian ditafsirkan dengan menggunakan cara-cara yang jelas (tahlili, muqaran, maudhu’i).   Filsafat yang diakui sebagai ibu ilmu pengetahuan berawal dari pemikiran reflektif para filosof. Cara ini juga yang digunakan dalam pengkajian Pemikiran (ilmu Kalam dan Tasawuf) sehingga  keduanya sering disebut secara bersamaan di IAIN  yaitu Filsafat dan Pemikiran. Pengajian perbandingan agama agak sedikit berbeda dengan dua bidang di atas  di mana penyusunan teori dapat dilakukan dengan dua arah yakni  deduktif dan induktif. Deduktif yaitu secara agamis berangkat dari fenomena umum yang diisyaratkan al-Quran atau pemikiran berbagai tokoh, kemudian diberi interpretasi logis dan objektif. Induktif yakni berangkat dari empiri  dengan cara berlaku pada teori-teori ilmu pengetahuan yang berkembang di barat pada umumnya.

Secara epistimologis,  Psikologi Islam  tidak berbeda dengan ilmu Tafsir  dan Pemikiran (Tasawuf) yang bersifat deduktif. Teori-teori Psikologi kontemporer yang berkembang di barat dapat  berfungsi memberikan penafsiran dalam rangka membumikan atau mendekatkan wahyu Tuhan dengan kenyataan dan realita yang terjadi pada manusia.  Atau sebaliknya fenomena dan kenyataan empiris dikonfirmasikan kepada al-Quran dan Hadis, atau pemikiran para tokoh. Ini tidak dimaksudkan untuk memberi pembenaran terhadap temuan, namun lebih bersifat aksiologis yakni mencari hikmah dari firman Allah atau Hadis Rasul.  Oleh karenanya  penempatan Psikologi  Islam di Fakultas Ushuluddin relevan dengan rumpun ilmu yang menaunginya.

B. Manusia dalam Pandangan  Psikologi  Barat  dan  Psikologi Islam.

Membandingkan Psikologi barat dengan Psikologi Islam akan lebih terlihat nyata  dalam  pandangannya terhadap manusia. Psikologi barat telah berkembang pesat dewasa ini. Sebagai suatu disiplin Ilmu ia telah memberikan sumbangan besar dalam kehidupan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan banyak sekali alat bantu kehidupan yang kita nikmati hari ini  merupakan hasil pengajian dari Psikologi barat. Berbagai aliran Psikologi yang berkembang dengan beberapa tokoh yang terkenal mengemukakan pendapatnya tentang manusia. Aliran Psikoanalisis yang dipelopori oleh Freud melihat manusia dengan pandangan bahwa manusia sudah memiliki potensi diri yakni id, ego, dan super ego. Energi dasar manusia terletak pada id (instink libido/ destruktif) yang  bertentangan dengan nilai-nilai. Dorongan-dorongan tersebut perlu pemuasan, namun super ego melarang pemuasannya. Oleh karenanya manusia berpotensi mengalami neurosis lantaran energi dasar yang dimilikinya tidak leluasa memperoleh kepuasan. Menurut Freud bahwa pengalaman masa lalu (masa kecil)  sangat menentukan perkembangan kepribadian pada masa selanjutnya. Teori-teori yang dikemukakannya berorientasi biologis dan deterministik yang menganggap bahwa manusia pada  hakikatnya  sakit dan tidak bebas dari masa lalunya.

Kalangan Neo-Freudian misalnya, Jung, Adler, dan Fromm yang pada dasarnya sama dengan Freud dalam  memandang manusia namun terdapat perbedaan. Freud pesimis dalam memandang manusia, sebaliknya Jung optimis dan kreatif yakni menekankan tujuan manusia yakni aktualisasi diri. Freud menekankan determinan seksual dalam melihat manusia sementara Adler memberikan penekanan pada determinan-determinan sosial. Freud berorientasi biologis dan deterministik sementara Fromm menekankan bahwa struktur dan dinamika masyarakat tertentu  membentuk anggotanya sesuai dengan nilai masyarakat tersebut. Psikoanalisis Freud melihat manusia  secara pesimis dengan kepribadian sakit sementara Neo-Freudian  memandang secara optimis, berkepribadian sehat.

Aliran Behaviorisme dengan tokohnya yang terkenal antara lain Ivan Pavlov, John B. Watson, dan J. F. Skinner mengemukakan teori-teori yang pada umumnya dilahirkan dari eksperimen terhadap hewan. Asumsi dasarnya bahwa tingkah laku manusia sebagai manifestasi kejiwaannya merupakan respon dari stimulus yang diterimanya dari lingkungan dan teori ini lebih dikenal dengan Stimulus-Respon (S-R).  Ketika dilahirkan, manusia tidak membawa bakat apapun, mereka berkembang berdasarkan stimulus yang diterima dari lingkungannya. Pendekatan ini mendapat kritik dari beberapa ahli Psikologi barat sendiri yang menganggap hal ini merupakan  pengingkaran terhadap potensi alami yang dipunyai oleh manusia. Kenyataan memperlihatkan begitu banyak perbedaan individual antara seorang manusia dengan lainnya. Ketika anak manusia baru lahir sudah terlihat perbedaan cara merespon terhadap lingkungan antara  bayi yang satu dengan bayi lainnya. Kritik lainnya bahwa pendekatan ini menganggap manusia sebagai makhluk hedonis yang mempunyai motif tunggal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pisik dan lingkungan sosial. Lebih jauh, manusia mampu mengatur kehidupan diri dan lingkungannya, bahkan ia dapat melakukan revolusi atau mengadakan perubahan secara besar-besaran terhadap arah sejarah manusia.

Pendekatan Humanistik yang dipelopori oleh Abraham Maslow berpendapat bahwa pengajian terhadap manusia harus didekati dari sudut kemanusiaannya. Tujuan yang disebut Maslow dengan kebutuhan tertinggi dari kehidupan manusia adalah aktualisasi diri. Prasyarat untuk mencapai tujuan tersebut dengan memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah yaitu 1) kebutuhan fisiologis; 2) kebutuhan akan rasa aman; 3) kebutuhan akan memiliki dan cinta; 4) kebutuhan akan penghargaan.  Sebelum terjelma kebutuhan aktualisasi diri, maka kebutuhan-kebutuhan sebelumnya harus terpuaskan sekurang-kurangnya sebagian sesuai dengan jenjang urutan yang telah dikemukakan.

Psikologi Islam  memandang manusia berbeda dari Psikologi barat.  Ajaran Islam mengemukakan bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah (punya potensi beragama) atau potensi baik  yang pengembangannya  tergantung kepada lingkungan (terutama lingkungan sosial orang tua)  di mana ia dibesarkan (HR Bukhari dan Muslim).

Aktualisasi diri sebagai kebutuhan tertinggi manusia pada dasarnya berbeda secara signifikan dengan ajaran Islam. Karena aktualisasi diri dapat mengakibatkan manusia menjadi anthropo-centrisme yang memberi peluang kepada manusia menganggap dirinya sebagai “penguasa” dan mampu memainkan “peranan Tuhan” atas dirinya.  Betapa banyak kasus yang membuktikan bahwa dengan aktualisasi diri  mengakibatkan manusia berperilaku semena-mena. Apabila dikaitkan dengan politik, dia ingin menjadi penguasa tanpa batas dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan  bahkan ada yang bertentangan dengan hak azazi manusia.

Perbedaan yang mendasar antara Psikologi Islam dengan Psikologi barat terletak pada  pandangan terhadap manusia itu. Paradigma Psikologi Islam, pengajiannya berangkat dari al-Quran yang dipercayai kebenarannya. Karena ajaran Islam mengisyaratkan bahwa pengajian terhadap manusia harus dikaitkan kepada Pencipta manusia yakni Allah.  Sebagai Pencipta, Ia lebih mengetahui tujuan penciptaan, sifat dan karakter, serta kemauan-kemauan yang ada dalam diri manusia. Semuanya itu Dia cantumkan di dalam al-Quran sebagai panduan bagi manusia dalam berbagai kegiatan dan aktivitas mereka. Di samping itu perlu pula dipedomani Hadis sebagai informasi yang membantu al-Quran untuk menjelaskannya. Berikut ini saya mengutip apa yang dikemukakan oleh Usman Najati (1985: 244-266) dalam bukunya Al-Quran wa ‘Ilm al-Nafs terj. Ahmad Rofi’i Usman dengan judul Al-Quran dan Ilmu Jiwa tentang konsep manusia. Dalam buku tersebut  dikemukakan bahwa pandangan terhadap manusia dilihat dari  unsur penciptaannya, konflik psikis yang dialaminya, dan pola-pola kepribadiannya.

Mengenai penciptaan manusia banyak sekali ayat yang berkenaan dengan itu antara lain  dalam surat Shad, 38:71-72 dan al-Hijr, 15:28-29.

اذ قال ربك للملائكة انى خالق بشرا من طين * فاذا سويته ونفخت من روحى فقعوا له ساجدين *

واذ قال ربك للملائكة انى خالق بشرا من صلصال من حمأ مسنون * فاذا سويته ونفخت فيه من روحى فقعوا له ساجدين *

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku, maka hendaklah kamu bersujud kepadanya (Shad, 38:71-72 )

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk”. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah Kutiupkan ke dalamnya roh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (al-Hijr, 15:28-29).

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa penciptaan manusia terdiri dari dua unsur yaitu materi berupa saripati tanah dan non-materi berupa roh Allah. Ini menunjukkan bahwa penciptaan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Dari segi materi, sebagian besar karakteritik manusia sama dengan hewan misalnya, dorongan dan emosi untuk mempertahankan diri, kemampuan untuk memahami, dan belajar. Tetapi dia berbeda dengan hewan dari sudut karakteristik roh yang membuatnya cenderung mencari Allah. Manusia yang diciptakan dari dua unsur itu secara psikologis mengalami konflik di mana  terjadi tarik menarik antara unsur materi dengan roh Allah. Unsur materi mengajak kepada hal-hal materi yang bersifat rendah seperti keadaannya hewan sementara unsur roh Allah mengajak manusia untuk dekat kepadaNya. Oleh karenanya manusia berpotensi mengalami konflik. Ini tercantum dalam al-Quran antara lain surat an-Nazi’at, 79, 37-41 dan  al-Balad, 90:10.

فاما من طغى * وءاثر الحياة الدنيا * فان الجحيم هى المأوى * واما من خاف مقام ربه ونهى النفس عن الهوى * فان الجنة هى المأوى *

انا هديناه السبيل اما شاكرا واما كفور

Artinya: Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya (an-Nazi’at, 79, 37-41)

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada yang kafir ( al-Balad, 90:10 )

Ayat di atas menginformasikan bahwa konflik batin akan dialami manusia dalam kehidupannya, konflik tersebut dapat berakhir dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Berkenaan dengan pola kepribadian manusia yang diinformasikan oleh al-Quran bahwa manusia dikelompokkan Allah pada tiga pola berdasarkan  akidah atau keyakinannya. Masing-masing pola memiliki sifat umum utama yang membedakannya dari pola yang lain. Pola-pola tersebut yaitu orang beriman (mukmin), orang kafir (kafir), dan orang yang hipokrit (munafik). Sifat-sifat utama dari masing-masing pola yang dapat ditangkap dari isyarat al-Quran  dikelompokkan berdasarkan kategori sifat umum utama yaitu  berkenaan dengan akidah, ibadah, hubungan sosial, hubungan kekeluargaan, moral, emosional & sensual, intelektual & kognitif, kehidupan praktis & professional, dan pisik sebagaimana digambarkan dalam tabel berikut:

Pola Kepribadian Manusia Dengan Sifat-sifat Umum

Sifat Utama

Mukmin

Kafir

Munafik

Berkenaan dg akidah

Iman pd:

  • § Allah
  • Rasul
  • Malaikat
  • Kitab
  • Hari Akhir
  • § Hal  yang gaib
  • § Qadha & qadar.
  • § Tidak beriman pd akidah tauhid dan semua rukun iman
  • § Tidak mempunyai sikap yg tegas thd akidah tauhid
  • § Menyatakan beriman ketika bersama or. beriman dan memperlihatkan kemusyrikan ketika bersama or musyrik

Berkenaan dengan ibadah

  • § Menyembah Allah
  • § Melaksanakan salat, puasa, zakat, haji
  • § Berjihad di jln Allah
  • § Selalu mengingat Allah
  • § Bertaqwa (memelihara diri)
  • § Memohon ampun
  • § Berserah diri pd Allah
  • § Membaca al-Quran
  • § Menyembah selain Allah yg tdk memberi manfaat dan mudarat
  • § Melaksanakan ibadah hanya karena riya, bukan karena penerimaan kewajiban
  • Malas mendirikan salat

Berkenaan dengan hubungan sosial

  • § Memperlakukan or. lain dg baik
  • § Dermawan dan suka berbuat kebajikan
  • § Suka bekerjasama
  • § Tidak memisahkan diri dari kelompok
  • § Menyeru pd kebaikan dan mencegah dr kemungkaran
  • § Suka memaafkan
  • § Memperhatikan kepentingan orang lain
  • § Menghindari hal yang tidak bermanfaat
  • § Zalim
  • § Suka memusuhi orang yg beriman
  • § Suka menghina or. beriman
  • § Senang mengajak pd kemungkaran
  • § Melarang orang berbuat kebajikan
  • §Menyuruh pd kemungkaran dan mencegah kebajikan
  • § Berusaha menimbulkan kericuhan dlm barisan kaum muslimin dg mempergunakan berbagai issu
  • §Cenderung memperdayakan orang
  • §Bermulut manis utk menarik perhatian pendengar
  • §Banyak bersumpah utk meyakinkan orang
  • §Suka berpenampilan

baik dlm pakaian dan menarik perhatian dan mempengaruhi orang lain

Berkenaan dg hubungan kekeluargaan

  • § Berbuat baik pd kedua orang tua dan kerabat
  • § Pergaulan yang baik antara suami isteri
  • § Menjaga dan membiayai keluarga
  • § Mengontrol keluarga
  • § Senang memutuskan silaturrahmi

-

Berkenaan dengan moral

  • § Sabar
  • § Lapang dada
  • § Lurus
  • § Adil
  • § Melaksanakan amanat
  • § Menepati janji

Pd Allah dan

manusia

  • § Menjauhi dosa
    • § Merendahkan diri
    • § Teguh dlm kebeneran di jln Allah
      • § Kuat kemauan
      • § Mampu mengendalikan diri dr hawa nafsu
  • § Mengingkari janji
  • § Berlaku serong
  • § Suka menuruti hawa nafsu
  • § Sombong
    • § Takabur
  • § Kurang percaya pd diri sendiri
  • § Suka mengingkari janji
  • § Tindakan berdasarkan pamrih
  • § Penakut
    • § Pembohong
    • § Kikir
    • § Hedonis dan oportunis
    • § Suka menuruti hawa nafsu

Berkenaan dengan sifat emosional dan sensual

  • § Cinta pd Allah
  • § Takut akan azab Allah
  • § Tidak putus asa thd rahmat Allah
  • § Senang berbuat kebajikan pd sesama
  • § Tidak suka memusuhi orang lain & menyakitinya
  • § Menahan marah dan mampu mengendalikannya
  • § Tidak sombong dan menyom- bongkan diri
  • § Tdk dengki
  • § Penyayang
  • § Benci dan dengki thd or. beriman
  • § Dengki thd karunia yg diberikan Allah thd or. beriman
  • § Penakut baik kpd or. beriman maupun pd or. musyrik
  • § Takut mati sehingga tdk mau berperang bersama or. muslimin
  • § Benci dan dengki thd kaum muslimin

Berkenaan dg intelektual dan kognitif

  • § Memikirkan alam ciptaan Allah
  • § Selalu menuntut ilmu
  • § Tidak mengikuti sesuatu yang masih merupakan dugaan
  • § Teliti dlm melihat realitas
  • § Bebas dalam berpikir dan berakidah
  • § Pikiran yg statis
  • § Tdk mampu memahami dan berpikir
  • § Kalbu tertutup
  • § Mengikuti kepercayaan dan tradisi nenek moyang secara membabi buta
  • § Suka memperdayakan orang lain
  • §Ragu-ragu dan tdk berani mengambil keputusan
  • §Tidak mampu berpikir secara benar (tertutup hati)
  • § Cenderung mempertahankan diri dengan berbagai alas an thd tindakan

Berkenaan dengan kehidupan praktis dan profesional

  • § Tulus dalam bekerja
  • § Menyempurnakan pekerjaan
  • § Berusaha dengan giat dlm upaya mencari rezki

-

-

Berkenaan dengan pisik

  • § Kuat
  • § Sehat
  • § Bersih
  • § Suci dari najis

-

-

C. Masa Depan Psikologi Islam

Memperhatikan perkembangan peradaban Islam dewasa ini saya berpendapat bahwa Psikologi Islam akan berkembang seiring dengan  itu.  Pendapat ini saya kemukakan setelah  mengamati perkembangan ekonomi Islam dengan  berbagai variasi misalnya bank Syari’ah, asuransi Syari’ah, dan lain-lain. Karena masyarakat terutama umat Islam mulai menyadari bahwa  perekonomian sekuler  konvensional  memberikan keuntungan yang tidak adil dan berbagai ketimpangan lainnya. Akhir-akhir ini kita  melihat banyak sekali bank  yang  membuka dirinya untuk menyediakan pelayanan syari’ah baik di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim maupun di luar Indonesia.

Memperhatikan  keadaan ini saya juga memprediksikan bahwa Psikologi Islam akan  berkembang pesat.  Perkiraan ini  berdasarkan  peranan ilmu ini dalam berbagai bidang kehidupan. Diantaranya bermanfaat dalam konseling dan Psikoterapi   rekrutmen sumberdaya manusia untuk jabatan dan pekerjaan tertentu, membantu dalam proses pembelajaran, dan lain-lain.  Dalam realitas kehidupan sehari-hari, sekalipun belum dinamakan sebagai Psikologi Islam, namun telah digunakan dalam proses pembelajaran misalnya, digunakan oleh Ari Ginanjar dalam pelatihan ESQ (Emotional Spiritual Quotient) dan Abdullah Gymnastiar yang lebih dikenal dengan Aa Gim dalam MQ (Manajemen Qalbu). Untuk pengembangannya lebih jauh tentu saja diperlukan penelitian-penelitan  lebih lanjut.

Apabila dibandingkan  kepada Psikologi Agama, maka  dapat diketahui bahwa  pengakuan untuk menjadi suatu disiplin ilmu yang mandiri  berproses selama 27 tahun  sejak G. Stanley Hall  melakukan penelitian tentang konversi agama pada remaja  tahun 1881  sampai dengan konferensi Jenewa  yang diadakan oleh para ahli Psikologi pada tahun 1909.  Keberatan para ahli  dalam bidang ini lebih disebabkan kekhawatiran  akan tercemarnya kesucian agama. Dengan berbagai penelitian  yang dilakukan oleh  ahli-ahli ilmu Jiwa, akhirnya diperoleh pengakuan terhadap eksistensi Psikologi Agama tersebut. Saya berharap bahwa Psikologi Islam tidak akan menjalani proses yang relative lama.

Daftar Kepustakaan

Abdul Mujib dan Yusuf Muzakir. Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.

Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, Jakarta: Arga, 2001.

Ancok, Djamaludin & Fuat Nashori Suroso. Psikologi Islami, Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.

Badri, Malik B. The Dilemma of Muslim Psychologist, terj. Anas Mahyudin dengan judul Psikolog Islam di Lobang Buaya, Yogyakarta: U. P. Karyono, 1981.

Corey, Gerald. terj. E. Koeswara. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, Bandung: Refika Aditama, 2005.

Gymnastiar, Abdullah. Menjaga Hati, Meraih Cinta Ilahi. Bandung: Mizan, 2003.

Najati, M. Usman. Al-Quran wa ‘Ilmu al-Nafs, terj. Ahmad Rofi’I Usman dengan judul Al-Quran dan Ilmu Jiwa,  Bandung: Pustaka, 1985.

Schultz, Duane. terj. Yustinus. Psikologi Pertumbuhan, Model-model Kepribadian Sehat, Yogyakarta: Kanisius, 1991.


*Makalah disajikan dalam Seminar Internasional bekerjasama dengan Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia pada hari Rabu, 24 Agustus 2005

URGENSI PSIKOLOGI ISLAM DALAM MEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH[*]

Oleh: Hayati Nizar

(Guru Besar Psikologi Islam IAIN IB Padang)

Pendahuluan

Psikologi adalah kajian tentang perilaku manusia, teori-teori psikologi  yang dibangun direkonstruksi dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan terhadap perilaku manusia. Perkembangan kajian psikologis berlangsung sangat cepat  dan  dalam waktu yang relatif singkat muncul berbagai cabang psikologi yang kajiannya bertumpu kepada perilaku manusia saja.

Berbeda dengan psikologi barat, umat Islam perlu mengembangkan kajian psikologis  yang  mendasarkan diri kepada isyarat  Pencipta manusia yakni Allah, karena Dia sebagai Pencipta lebih mengetahui perilaku manusia, makhluk ciptaan-Nya. Isyarat yang dimaksudkan  tercantum di dalam al-Quran dan dijelaskan pula oleh Rasul Muhammad melalui Hadis. Dengan demikian, psikologi Islam adalah kajian tentang perilaku manusia yang berdasarkan al-Quran dan Hadis.

Berkenaan dengan perilaku mewujudkan keluarga sakinah, maka kajian ini merujuk kepada al-Quran dan Hadis. Untuk mewujudkan  keluarga sakinah, tulisan ini memuat tentang  anjuran berkeluarga, memasuki dunia perkawinan dan memeliharanya, dan memperlakukan anak dalam keluarga.

B. Anjuran Berkeluarga dalam Islam

Ajaran Islam menganjurkan perkawinan dengan tujuan membentuk keluarga yang tenteram dan berkasih sayang serta melanjutkan  keturunan dengan maksud lebih  jauh memakmurkan bumi Allah. Di dalam surat Rūm, 30:21  Allah menginformasikan sebagai berikut:

ومن اياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن فى ذلك لأيات لقوم يتفكرون

ِArtinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa perkawinan atau berkeluarga  dianjurkan oleh Allah dan ini ditegaskan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Turmuzi dari Abi Ayyub  sebagai berikut:

أربع من سنن المرسلين: الحناء والتعطر والسواك والنكاح

Artinya:  Empat hal yang termasuk sunnah para Rasul yakni memiliki rasa malu, memakai harum-haruman, menyikat gigi, dan menikah.

Dalam Hadis lain yang diriwayatkan oleh Jama’ah dari Ibnu Mas’ud  dikemukakan  bahwa  menikah itu wajib hukumnya bagi  pemuda yang telah memiliki kemampuan untuk  membelanjai  isteri sebagaimana sabda Rasul:

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بللصوم فإنه له وجاء

Artinya: Hai para pemuda: “barangsiapa yang telah memiliki kemampuan untuk membelanjai isteri, hendaklah menikah, sesungguhnya hal itu (menikah)  dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan; barangsiapa yang belum sanggup (membelanjai isteri) hendaklah dia berpuasa, sesungguhnya (puasa) itu menjadi penyelamat.”

Anjuran berkeluarga dalam Islam bertujuan agar manusia dapat memelihara pandangan dan memelihara kehormatan. Berkeluarga atau menikah  adalah menyatukan dua individu yang berbeda dalam satu atap  atau satu rumah. Suatu rumah tangga diibaratkan sebagai laut atau bahtera yang tidak bertepi, gelombang dahsyat yang tidak disangka dan dinyana. Untuk itu diperlukan panduan dalam memasukinya dan mendidik anak yang lahir dari keluarga tersebut. Panduan ini dimaksudkan   agar  keluarga sakinah  yang diidamkan terwujud dalam kehidupan  nyata sehari-hari.

C.Memasuki Dunia Perkawinan dan Memeliharanya.

Membangun suatu keluarga bukanlah pekerjaan yang mudah, karena suami isteri adalah dua individu yang berbeda. Keduanya memiliki perbedaan dalam berbagai hal, lingkungan sosial yang membesarkan; pandangan hidup yang ditanamkan; perilaku  yang dibiasakan; status sosial ekonomi; latar belakang pendidikan; dan lain-lain.  Sekalipun dua individu tersebut sama atau hampir sama dalam status sosial ekonomi dan latar belakang pendidikan, namun tetap berbeda  dalam tiga hal yang disebutkan pertama yakni  lingkungan sosial, pandangan hidup, dan perilaku hidup yang yang melatarbelakanginya. Hal ini secara tidak disadari sudah merasuk ke dalam diri individu dan menjadi pakaian hidup  bagi individu itu sendiri.

Suami isteri  yang memasuki dunia perkawinan dengan didahului oleh proses pengenalan yang relatif panjang, tetap saja ada hal-hal  atau  perilaku yang tidak diduga muncul, karena biasanya dalam proses pengenalan tersebut diperlihatkan  perilaku ideal yang pada hakikatnya berbeda dengan  perilaku hidup keseharian yang nyata.  Akhir-akhir ini  kita menyaksikan dan mendapat informasi  lewat media massa dan lainnya tentang  konflik  rumahtangga  padahal usia perkawinannya  relatif  singkat. Di bawah ini  dikemukakan teknik yang perlu ditempuh oleh  orang yang akan menikah agar perkawinan langgeng dan bermakna:

  1. Meluruskan niat :  ketika memasuki dunia perkawinan, penganten baru perlu meniatkan di dalam hatinya bahwa mereka menikah untuk mengikuti perintah Allah dan  sunnah RasulNya. Niat demikian berkonsekuensi terhadap kerelaan dan kemauan buat berpedoman kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan berkeluarga.  Dalam suatu Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban,  Rasul  mengingatkan kepada orang yang akan menikah sebagai berikut:

من تزوج امرأة لمالها لم يزدها الله إلا فقرا ومن تزوج امرأة  لحسبها لم يزده الله إلا دناءة ومن تزوج ليغض بها بصره ويحصن فرجه أو يصل رحمه بارك الله له فيها وبارك لها فيه

Artinya: Barangsiapa mengawini perempuan karena hartanya tidak akan ditambahi oleh Allah kecuali kefakiran; barangsiapa mengawini perempuan karena martabatnya tidak akan ditambahi oleh Allah kecuali kehinaan; barangsiapa mengawini perempuan dengan niat untuk menutup pandangannya (kepada orang lain) dan menjaga kehormatannya atau menghubungkan tali kasih sayang,  akan diberkati oleh Allah baik perempuan maupun laki-laki (HR Ibnu Hibban) .

Perkawinan yang diniatkan karena  mengikut perintah Allah,  akan menaklukkan hati agar bersedia menaati semua ajaran Allah dan Rasul, karena di sana ada keberkatan yang dijanjikan-Nya. Parameter yang dipakai dalam melihat dan menerima pasangan hidup adalah parameter yang digunakan oleh Allah dan Rasul, yakni untuk menundukkan pandangan, memelihara kehormatan, dan menghubungkan tali kasih sayang, bukan parameter dunia yang seringkali  berisi tipuan dan godaan syetan.

Sebagai manusia, biasanya dua individu yang memasuki dunia perkawinan menaruh berbagai harapan yang ideal  terhadap pasangannya, namun dalam kenyataan tidak selalu ditemukan hal tersebut.  Apabila  parameter  yang digunakan dalam memandang pasangan adalah pedoman yang digariskan oleh Allah dan Rasul  maka kehidupan rumahtangga akan tenteram, karena terdapat  kesamaan persepsi dalam memandang sesuatu atau keadaan yang dihadapi dalam rumahtangga. Sebaliknya, seandainya parameter yang digunakan adalah parameter duniawi, akan selalu terdapat perbedaan antara suami dan isteri.

  1. Menciptakan pengertian yang sungguh-sungguh antara suami dan isteri.  Suami dan isteri  memiliki latar belakang yang berbeda misalnya,  cara dibesarkan dan dididik oleh orang tua/keluarga, lingkungan bermain sejak kecil,  keberagamaan keluarga yang membesarkan, posisi dalam bersaudara, dan lain-lain.  Semuanya itu membentuk kepribadian masing-masing individu.  Untuk  menjaga ketenteraman rumah tangga, suami isteri  harus mengerti sungguh-sungguh terhadap pasangannya.
  2. Saling menerima. Suami dan isteri sebagai manusia memiliki kelebihan dan kekurangan dan tidak ada manusia yang sempurna. Ketika suami dan isteri  telah diikat oleh sebuah perkawinan, maka masing-masing perlu menerima pasangannya dengan berbagai kekuatan dan kelemahan itu secara menyeluruh. Penerimaan terhadap kelemahan maksudnya memaklumi bahwa pasangannya mempunyai kelemahan dan berupaya  memperbaikinya. Misalnya, suami  yang mudah emosi tidak ditentang oleh isteri dengan emosi yang sama, begitupun sebaliknya. Masing-masing individu dapat mencari waktu yang baik untuk menyampaikan dan mengomunikasikan  dengan cara yang baik dan sama-sama berupaya memperbaiki diri.
  3. Saling menghargai antara suami dan isteri.  Sikap saling menghargai dapat diwujudkan dengan berbagai cara antara lain mendengarkan pasangan berbicara  atau bercerita,  memberikan tanggapan  terhadap pembicaraannya dengan hati terbuka dan penuh perhatian,  mengingatkan hari-hari bersejarah bagi pasangan, menyambut pasangan dengan wajah gembira ketika dia pulang, memperhatikan kondisi kesehatannya, menanyakan keadaan anak-anak, dan lain-lain.
  4. Memelihara sikap saling mempercayai. Suami dan isteri perlu menanamkan sikap  tersebut sejak awal  perkawinannya dengan cara  memupuk  rasa baik sangka (husnu al-zhan) terhadap pasangan.  Terimalah issu-issu negatif yang diinformasikan  seseorang dengan lapang dada dan berbaik sangka. Selidikilah dulu dengan cara yang bijak (tabayyun) terhadap issu yang diterima.  Untuk itu masing-masing pasangan harus menghadapi dengan kepala dingin dan menjaga hati yang bening serta pikiran jernih agar tidak mudah diperdayakan oleh syetan.
  5. Saling menyayangi antara suami dan isteri. Rasa sayang adalah kurnia Allah yang perlu dipelihara dan kasih sayang tersebut  dapat berubah menjadi benci disebabkan sesuatu dan lain hal. Berdasarkan hal tersebut, penyair Arab memberikan panduan dalam berkasih sayang:

احبب حبيبك هوناما عسى أن يكون بغيضك يوماما

وابغض بغيضك هوناما عسى أن يكون بغيضك يوماما

Artinya: Sayangilah kekasihmu sekedarnya, barangkali suatu ketika dia akan menjadi orang yang kamu benci;  bencilah orang yang kamu benci sekedarnya, barangkali suatu ketika dia akan menjadi kekasihmu.

Suami-isteri perlu menjaga rasa sayang dengan objektif dan berkesinambungan, bukan secara subjektif dan pragmatis. Suami menyayangi isteri karena dia menjadi pendampingnya dan ibu bagi anak-anaknya. Begitupun sebaliknya isteri menyayangi suami karena dia menjadi pendampingnya dan bapak dari anak-anaknya. Rasa sayang itu bukan lantaran penampilan, kepopuleran, kekayaan, pangkat/martabat, dan lain-lain.

Di atas telah dkemukakan konsep ideal tentang cara menciptakan keluarga harmonis, namun dalam kenyataan ada-ada  saja muncul  masalah yang tidak terduga. Di bawah ini dikemukakan beberapa masalah yang mungkin timbul dalam rumah tangga  dan kiat menghadapinya. Masalah-masalah tersebut diantaranya:

  1. Kehadiran orang ketiga. Hal ini cukup menyakitkan, apalagi kalau dibarengi dengan perubahan sikap pasangan. Untuk itu suami/isteri perlu mempelajari faktor-faktor  penyebab dari kehadiran tersebut yang biasanya meliputi:

a)                  Faktor yang bersumber dari kelemahan suami/isteri.  Di sini suami/isteri  harus mau melakukan introspeksi diri. Pada umumnya  faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Kurang perhatian. Adakalanya dengan  berlalunya waktu, suami/isteri kurang memberikan perhatian terhadap pasangan yang mungkin disebabkan oleh kesibukan. Isteri sudah merasa memberikan perhatian pada suami dengan menyediakan makan dan minum setiap hari, menyiapkan pakaian, dan kebutuhan seks suami di tempoat tidur. Suami juga sudah merasa memberikan perhatian dengan memyediakan nafkah yang cukup untuk keluarga dan mengabulkan keinginan-keinginan isteri. Pada hal pemberian perhatian juga mencakup pemuasan ego pasangan  yang dilandasi kasih sayang. Perhatian juga mencakup usaha menjaga kesinambungan dan suasana relasi yang setara dalam mengkomunikasikan masalah-masalah rumah tangga dan pribadi secara terbuka. Apabila suami/isteri lupa memberi perhatian secara luas sampai kepada hal yang disebutkan terakhir ini, dikhawatirkan hubungan suami/isteri  menjadi hambar dan muncul perasaan jenuh.  Kejenuhan akan menjadi pemicu kehadiran orang ketiga.
  • Egois dan suka melecehkan pasangan. Suami/isteri suka memaksakan kehendak, tanpa peduli dengan perasaan ataupun harga diri pasangan, kurang menghargai kemampuan pasangan, padahal setiap orang termasuk pasangan suami/isteri berkeinginan agar diakui  eksistensi dirinya.
  • Suka berlaku kasar. Mungkin disebabkan kesibukan, tekanan, atau tidak terpenuhinya harapan, suami/isteri mudah terpancing emosi dalam menyikapi masalah yang muncul. Sikap kasar, keras, dan melecehkan dapat menimbulkan rasa sakit hati  dan membangkitkan gejolak untuk pertengkaran tanpa adanya penyelesaian yang menguntungkan kedua belah pihak.
  • Bersikap menyebalkan. Tanpa disadari mungkin ada kebiasaan buruk suami/isteri yang menjengkelkan dan menyebalkan pasangan. Kebiasaan buruk tersebut misalnya, mencurigai  dan membatasi gerak pasangan. Kebiasaan demikian seringkali membuahkan pertengkaran.
  • Kurang komunikasi dan minimnya waktu bersama. Dengan sedikitnya waktu bersama dan kurang berkomunikasi, masing-masing pasangan akan merasa jenuh dan melemahkan ikatan perkawinan. Suami/isteri merasa kecewa terhadap pasangannya.

b)                  Faktor yang bersumber dari  hubungan pasangan dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  • Masing-masing pasangan tidak menyukai sejak awal perkawinan. Biasanya ini terjadi pada pasangan yang dijodohkan atau perkawinan yang didasarkan dengan niat bukan karena Allah;
  • Suami/isteri mudah tersinggung;
  • Suami/isteri mempunya sifat iri hati. Orang yang iri hati merasa dirinya tidak mendapat perhatian, tidak dipedulikan, tersisih, dikalahkan, dan merasa diabaikan yang membuat perasaan pasangan yang iri hati itu tercabik-cabik. Iri hati juga disebabkan oleh perbedaan kesuksesan, perbedaan pendapatan, dan lebih memperhatikan orang tua daripada pasangan;

c)                  Faktor yang bersumber dari pengaruh luar.  Yang dimaksudkan dengan pihak luar boleh jadi keluarga, teman sekantor atau sahabat.

d)                 Faktor yang bersumber dari kesulitan ekonomi. Seringkali tekanan ekonomi  menjadi penyebab terjadinya  ketegangan hubungan suami/isteri.

2. Sifat mudah cemburu dalam diri suami/isteri. Untuk mengatasi ini perlu diperhatikan hal-hal yang menyebabkan pasangan mudah cemburu yang biasanya meliputi:

  • Kurang komunikasi antara suami dan isteri;
  • Memiliki sikap tertutup;
  • Tidak memahami watak, sifat, sikap, dan perilaku pasangan;
  • Tidak percaya diri;
  • Mudah terpengaruh;

Setelah  mengetahui penyebab cemburu, maka  cara yang perlu dilakukan untuk mengatasinya yaitu:

  • Membangun komunikasi dengan baik. Untuk ini yang perlu dilakukan adalah:
  • Peka terhadap  kepentingan maupun perasaan pasangan;
  • Membuat pasangan merasa senang berbicara;
  • Melakukan pembicaraan tanpa menghakimi
    • Mengembangkan sikap terbuka;
    • Memahami watak, sifat, sikap, dan perilaku pasangan;
    • Mengembangkan rasa percaya diri;
    • Jangan mudah terpengaruh oleh bisikan atau suara miring. Untuk ini suami/isteri perlu melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum menerima issu yang dilontarkan orang.
  1. Suami/isteri memiliki sifat pemarah. Untuk menghadapi hal tersebut  perlu dilakukan hal berikut:
  • Jangan terpengaruh oleh kata-kata dan perbuatan kasar pasangan;
  • Intensifkan perhatian dan pengertian terhadap pasangan;
  • Memanfaatkan titik lemah pasangan untuk mengendalikan sifat pemarahnya dengan cara menjadikan titik lemah itu sebagai objek pembicaraan.
  • Menciptakan suasana gembira dalam berinteraksi dengan pasangan

4. Suami/isteri suka melecehkan sikap emosional pasangan. Untuk menghadapi ini perlu dilakukan hal-hal berikut:

  • Hindari sikap emosional;
  • Bijaksana dalam merespon perilaku negatif pasangan;
    • Sediakan waktu khusus untuk mendiskusikan hal-hal yang menjadi ganjalan di hati masing-masing;
    • Komunikasikan fakta-fakta yang telah dibuat dan cari cara mengkomunikasikannya dengan pasangan;
    • Cobalah mempelajari keahlian tertentu;
      • Berikan perhatian personal.

5.  Besarnya pengaruh mertua dalam relasi suami-isteri. Kiat mengatasinya dapat dilakukan hal-hal berikut:

  • Tidak tinggal serumah dengan mertua;
  • Menaklukkan hati mertua dengan langkah-langkah berikut:;

ü     Menjalin interaksi dan komunikasi dengan mertua sebanyak mungkin;

ü     Bersedia beradaptasi  dan menyesuaikan sikap dan perilaku dengan kebiasaan adat dan tata krama yang berlaku dalam keluarga pasangan;

ü     Sentuh dan manfaatkan titik peka mertua atau beri perhatian khusus pada hal-hal yang menjadi minatnya;

ü     Usahakan mertua merasa senang dan puas atas pelayanan yang diberikan sesuai dengan harapan mereka;

ü     Jadilah pendengar yang baik di saat mertua bicara, simak apapun yang diucapkannya dan tanggapi dengan makna yang tersirat maupun tersurat;

ü    Bersedia membantu mertua, baik diminta maupun tidak;

ü     Jadilah orang pertama yang berada di sisi mertua jika mereka membutuhkan sesuatu pertolongan;

ü     Hindari sikap suka membantah, mendebat, mencela, mengkritik, atau memotong pembicaraan mertua.

6.  Masalah ekonomi  dalam keluarga dapat diatasi dengan kiat berikut:

  • Memberikan dukungan emosional dengan cara:
    • Memberikan perhatian dan bersikap peduli terhadap  penderitaan pasangan. Ajaklah pasangan untuk membicarakan masalahnya;
    • Jadikan diri anda tempat pasangan memulihkan semangat hidup dan kepercayaan diri;
    • Menjadi  pendengar yang baik;
      • Membantu pasangan untuk menerima kenyataan meskipun berat dan pahit.
      • Suami/isteri tidak boleh goyah oleh suara-suara sumbang yang biasa datang dari berbagai pihak;
      • Jangan putus asa, karena tidak ada pengusaha yang langsung sukses tanpa mengalami kesulitan. Tanamkan keyakinan bahwa hal ini adalah ujian dari Allah dan Dia akan memberikan jalan keluar selama usaha tetap dilakukan.
      • Untuk menunjang kesuksesan, suami/isteri perlu memperluas wawasan dengan cara memperluas pergaulan baik perseorangan maupun organisasi.

C.  Memperlakukan Anak dalam Keluarga

Salah satu konsekuensi dari perkawinan adalah lahirnya anak sebagai  pelanjut keturunan.  Dia suci  dan memiliki potensi beragama sejak kecil sebagaimana dikemukakan dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه   و يمجسانه

Artinya: Setiap bayi lahir dalam keadaan suci (fitrah), kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

Yang dimaksudkan dengan fithrah adalah potensi beragama sebagaimana dimaksudkan oleh Allah dalam surat Rüm, 30:30 yang artinya:

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”

Ayat dan Hadis di atas  menunujukkan bahwa  bayi lahir telah membawa potensi beragama dan hal itu akan berkembang secara baik dengan panduan dari orang tua. Orang tua/keluarga adalah ladang tempat tumbuh dan berkembangnya potensi beragama anak. Apabila orang tua melakukan perawatan dan bimbingan terhadap anak secara baik, maka si anak akan tumbuh dan kembang  secara baik yang akan mengantarkannya memiliki kepribadian yang utuh dan kuat.  Sebaliknya, apabila orang tua tidak merawat dan membimbing secara baik, maka berkemungkinan anak akan tumbuh dan kembang dengan caranya sendiri yang belum tentu baik. Di bawah ini dikemukakan panduan untuk  suami isteri yang  akan menjadi bapak dan ibu:

  1. Berikan makanan yang baik dan halal. Baik yang dimaksudkan di sini adalah  makanan yang bergizi. Halal dapat dilihat dari dua sisi yakni zat dan cara memperoleh. Halal zatnya adalah substansi makanan/minuman  yang tidak diharamkan oleh Allah misalnya, tidak memabukkan, bukan daging babi, bukan bangkai atau hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Halal cara memperolehnya yaitu makanan/minuman yang didapat dengan cara  yang jelas misalnya,  upah/gaji/jasa yang jelas atau   hasil  perdagangan, dan sejenisnya, bukan hasil curian/rampokan/tipuan, korupsi, judi, dan sejenisnya.
  2. Berikan nama yang baik, ketika  anak  baru  lahir.  Pemberian nama yang baik adalah sunnah.
  3. Perlakukan anak sesuai dengan usianya. Perlakuan terhadap anak-anak berbeda dengan remaja. Adakalanya orang tua memperlakukan remaja sama dengan anak-anak dan hal ini sulit diterima oleh remaja.
  4. Melatih anak sejak kecil agar hidup mandiri. Ada beberapa hal yang  perlu diperhatikan dalam upaya melatih anak menjadi pribadi yang mandiri yaitu:
  • Melatih kecakapan rumah tangga.  Anak-anak dilatih melakukan pekerjaan rumah tangga sejak kecil misalnya, membersihkan tempat tidurnya sendiri,  menyemir sepatu, ikut serta membantu ibu di dapur, dan lain-lain. Keikut sertaan mereka dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari, membuat mereka merasakan kegiatan itu sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupnya;
  • Melatih kecakapan sosial. Kecakapan sosial yang dimaksudkan di sini berkaitan dengan hubungan sosial. Biasanya permainan tradisional di kalangan anak-anak bertujuan mempererat hubungan sosial di mana ada aturan-aturan tersendiri yang harus dipatuhi oleh para pemain. Dengan permainan tersebut anak-anak belajar mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan bersama dan berupaya untuk tidak berlaku curang, karena kecurangan dapat menyebabkan pengucilan terhadap dirinya sendiri.
  • Melatih kecakapan menggunakan alat-alat kehidupan yang sangat diperlukan sehari-hari misalnya, menggunakan telepon  dan lain-lain;
  • Melatih pengaturan barang dan ruangan. Anak perlu diberi pemahaman tentang kerapian. Setiap barang yang mereka miliki ada tempat untuk menyimpannya dan benda-benda itu perlu dijaga agar selalu dikembalikan ke tempat semula setelah digunakan.
  • Melatih mengatur uang dengan cara memberi mereka uang bulanan dan membukukan setiap pengeluaran. Dengan cara demikian mereka belajar berhemat dan pada saat yang sama mereka belajar berinfak dari uang mereka sendiri;
  • Melatih kreativitas  dengan mengajak anak-anak ke tempat-tempat pertunjukan misalnya, seni, pameran, atau menyediakan bahan untuk membuat prakarya, dan sebagainya. Selain melatih kreativitas sebagaimana telah dikemukakan, orang tua juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memilih apa yang akan mereka lakukan. Apabila anak terbiasa dihadapkan kepada berbagai pilihan, maka dia akan terlatih membuat keputusan  sendiri.

5.Menghargai anak. Seringkali orang tua mengabaikan penghargaan terhadap anak, padahal anak juga manusia sebagaimana dirinya. Apabila orang tua  menyuruh anak, sebaiknya digunakan ungkapan ”minta tolong” dan bila sudah selesai dikerjakannya sebaiknya diucapkan terima kasih;

6. Memberikan kesempatan kepada anak untuk kagum dan bertanya;

  1. Membina hubungan dialog dengan penghayatan bersama dan rasa kepercayaan;
  2. Memberikan keteladanan atau uswah hasanah dalam keluarga. Keteladanan yang baik dalam keluarga jauh lebih ampuh daripada  nasehat.

Daftar Kepustakaan

Najati, Muhammad Usman, Al-Quran wa ‘Ilm al-Nafs, Kairo: Dar al-Syuruq, cet. VI, 1417 H/ 1997 M

———————————, Al-Hadits wa ‘Ulum an-Nafs, terj. Zainuddin Abu Bakar. Psikologi dalam Perspektif Hadis, Jakarta: Pustaka al Husna Baru, 2004

Nashori, Fuad, Potensi-potensi Manusia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. II, 2005

Purwakania Hasan, Aliah B, Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: Rajawali Grafindo Persada, 2006

Sapuri, Rafi. Psikologi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2009

Sabiq, Sayyid Syekh, Fiqh al-Sunnah, jld II, Libanon: Dar al-Fikri, cet III, 1981 M/1401 H

Taufiq, Muhammad Izzudin. At-Ta’shil al-Islami li l-Dirasati al-Nafsiyyah, terj. Sari Narulita, Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islam, Jakarta: Gema Insani, 1427 H/ 2006 M


[*] * Makalah, disajikan dalam diskusi panel dengan tema “Harapan dan Tantangan Perempuan” yang dilaksanakan  pada hari Kamis, 19 April 2007.


* Makalah disajikan  pada  Seminar Antar Bangsa ”Agama dan  Pemikiran Keagamaan” yang diselenggarakan oleh jabatan Ushuluddin, Universiti Kebangsaan Malaysia pada tanggal 4 – 8 Agustus 2007

[1] Pengertian tasawuf yang disepakati  oleh semua pihak ada dua bentuk pertama,  kesucian jiwa untuk menghadap Tuhan, Zat Yang Maha Suci,  kedua,  upaya pendekatan diri secara individual kepada Allah (Asep Usman Ismail, t.t:305).



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: