03
Apr
09

PANDANGAN AGAMA TERHADAP PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI

Oleh: Hayati Nizar

A. Pendahuluan

    Prof.Hayati NizarPornografi dan pornoaksi adalh dua kata yang hampir sama di mana pornografi menunjuk kepada substansi dan pornoaksi mengarah kepada perbuatan. Kedua kata tersebut berkonotasi kecabulan dan seksual atau hawa nafsu seks. Ketika kedua kata ini dikaitkan dengan agama, maka pertanyaan yang muncul adalah “bagaimana pandangan agama terhadap keduanya?”

    Untuk menjawab ini, kita perlu melihat perbedaan pandangan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Pencipta makhluk itu. Kita manusia seringkali bicara tentang masalah yang telah atau sedang terjadi, sementara sang Pencipta memandang sesuatu dengan pandangan antisipasi. Artinya, Allah sebagai Pengatur alam tidak bicara tentang masalah, tetapi mengantisipasi timbulnya masalah. Boleh dikatakan bahwa ajaran agama yang digariskan oleh Allah bersifat preventif untuk menjaga umat manusia.

    Agama, khususnya Islam berasal dari kata “salima” yang berarti “selamat.”  Imbuhan “hamzah” (a) di depan menjadi “aslama, yuslimu, islaman” berarti menyelamatkan. Dengan demikian kata “islam” berarti menyelamatkan umat  dari kehancuran. Agar manusia sebagai makhluk mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat, maka Allah membuat aturan-aturan yang jelas dalam ajaran agama Islam.

    Dalam makalah ini akan dikemukakan tentang penyebab utama masalah pornografi dan pornoaksi;  pornografi dan pornoaksi dalam sumber ajaran Islam,   aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, dan aturan berpakaian bagi perempuan muslimah.B. Penyebab Utama Masalah Pornografi dan Pornoaksi

    Penyebab utama masalah ini adalah hubungan dua jenis kelamin yang berbeda yakni laki-laki dan perempuan yang saling tertarik antara keduanya. Perkenalan antar manusia ini pada hakikatnya dianjurkan dalam al-Quran sebagaimana tercantum dalam surat al-Hujurat, 49:13

    Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

    Dalam al-Quran juga dinyatakan bahwa manusia menyenangi syahwat sebagaimana dikemukakan dalam surat Ali Imran, 3:14

    Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

    Biasanya istilah pornografi dan pornoaksi berkaitan erat dengan nafsu syahwat dan lebih jauh berkonsekuensi kepada hubungan intim antara laki-laki dan  perempuan. Perempuan sebagai pasangan laki-laki dilihat dari sudut perbedaan pisik memang berbeda. Secara pisik kulit perempuan lebih tipis dan lebih halus daripada kulit laki-laki. Di bawah kulit perempuan ada lemak yang membuat kulitnya lebih bersinar dan lebih lembab dibandingkan dengan laki-laki. Di samping itu selaput suara juga berbeda dan semua perbedaan pisik  berkonsekuensi pula secara psikologis. Ini semua berujung kepada istilah yang digunakan misalnya, kata cantik, manis, anggun, suara merdu dan lain-lain lebih cocok diperuntukkan bagi perempuan, bukan untuk laki-laki.

    Di dalam bahasa Arab kata “perempuan” dalam bentuk tunggal (mufrad) disebut “mar ah”. Apabila diberi harkat kasrah (berbaris di bawah) yakni “mir ah” berarti “cermin”. Dalam kenyataan hidup bahwa perempuan dan cermin tidak bisa dipisahkan.   Barangkali tidak ada yang memungkiri bahwa kenyataan demikian benar adanya.  Saya tidak tahu asal-usul kata-kata mutiara yang digunakan orang yang berbunyi: “perempuan ibarat cermin (kaca) retak sedikit tidak berharga lagi”, apakah berasal dari bahasa “mar ah dan mir ah” atau bukan. Hal itu tidak dipermasalahkan di sini.

    Dalam bentuk jamak (plural). “perempuan” disebut “nisak”, kata ini  tercantum sebagai nama surat dalam al-Quran. Ini berarti bahwa posisi perempuan sangat penting. Pepatah Arab juga menyebutkan bahwa perempuan tiang negara, apabila baik perempuan maka baik pula negara; sebaliknya, apabila rusak perempuannya maka rusak pula negara.

    Perempuan, yang dilabelkan kepadanya istilah cantik, lemah gemulai, suara merdu biasanya memberi inspirasi kepada pribadi kreatif untuk mengembangkan kreatifitasnya misalnya, membuat lukisan, gambar, ceritera, skenario film, dan lain-lain. Ketika pribadi pengembang krativitas itu  kurang memahami nilai-nilai agama dan moral maka tidak jarang terjadi bahwa pengembangannya mengarah kepada pornografi dan pornoaksi. Kondisi demikian diperparah oleh nilai-nilai materialistis yang mulai merasuki kehidupan manusia. Media massa, baik elektronik maupun cetak juga mempunyai andil yang cukup besar dalam masalah ini.

    Pornografi dan pornoaksi  memotivasi munculnya nafsu syahwat orang yang melihat atau mendengarnya dan konsekunsinya lebih jauh terjadi perzinahan atau hubungan intim di luar nikah. Dalam hal ini, Allah mengantisipasi dengan ayatnya dalam surat al-Israk, 13:32 yang artinya:

    Artinya:  “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.

    Allah tidak melarang dengan menggunakan kata “la tazinu” (jangan berzina), tetapi memakai kata “la taqrabu al-zina” (jangan mendekati zina) maksudnya agar manusia tidak melakukan pekerjaan yang memotivasi nafsu syahwat dan berakibat terjadinya perzinahan. Di akhir ayat ditutup dengan peringatan keras bahwa perbuatan itu keji dan jalan yang buruk  Di sini Allah mengantisipasi agar tidak terjadi perzinahan, bukan mempermasalahan perzinahan itu sendiri.

    C.  Pornografi dan Pornoaksi dalam Sumber Ajaran Islam.

    Al-Quran dan Hadis sebagai sumber ajaran Islam tidak menyebutkan istilah pornografi dan pornoaksi. Kedua sumber ajaran tersebut hanya menyebutkan kata yang berkonotasi “telanjang”, namun itu disebutkan ketika fokus pembicaraan terkait hukum  dalam ibadah mahdhah misalnya, wudhuk dan salat. Untuk ibadah ini diwajibkan menutup aurat dan tidak boleh bertelanjang.

    Di dalam al-Quran kita menemukan kata  “rafats” yang artinya “berkata kotor/porno”, namun dikaitkan Allah dengan ibadah haji sebagaimana di temukan dalam surat al-Baqarah, 2: 197

    Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

    Kata “rafats” adalah kata-kata yang berkonotasi tercela dan dalam hal ini mengarah kepada porno. Larangan bercanda dengan kata-kata porno dalam berhaji, karena hal ini menimbulkan nafsu syahwat dan selanjutnya timbul keinginan untuk berhubungan seksual, pada hal hubungan seksual suami-isteri terlarang bagi orang yang sedang melakukan ihram.

    Berkenaan dengan pornografi dan pornoaksi dalam berpakaian, terdapat Hadis Rasul yang diriwayatkan oleh Muslim yang artinya:

    “Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Ada dua jenis yang termasuk ahli neraka  yaitu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor lembu dan mereka menyiksa manusia dengan cambuk tersebut dan  perempuan setengah telanjang dan berpenampilan seronok serta berkeliaran seperti pelacur. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan bau surga itu”

    Orang yang memiliki cambuk seperti ekor lembu dan menyiksa manusia dengan cambuk maksudnya orang yang memiliki kekuasaan dan memperlakukan orang lain dengan sewenang-wenang atau zalim. Dari Hadis di atas dapat diambil pelajaran bahwa ada dua keadaan yang menyebabkan orang masuk neraka dan tidak akan pernah mencium bau surga yaitu  penguasa yang zalim dan perempuan berpakaian setengah telanjang dan berpenampilan seronok serta berkeliaran menjajakan dirinya.

    D.  Aturan Pergaulan antara Laki-laki dan Perempuan

    Di atas telah dikemukakan bahwa pornografi dan pornoaksi bersumber dari hubungan antara laki-laki dan perempuan.  Sebagai tindakan preventif  terhadap masalah itu, Allah menetapkan aturan dalam pergaulan laki-laki dan perempuan dalam al-Quran surat an-Nur, 24: 30, 31, dan 60 sebagai berikut.

    Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

    Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

    Ayat 30 dan 31 menginformasikan bahwa  manusia baik laki-laki maupun perempuan diharuskan menahan pandangan dan memelihara kemaluan agar tetap suci. Pada ayat 31 ketika mengarahkan pembicaraan kepada perempuan muslimah, ditambahkan Allah bahwa mereka diharuskan menutup aurat dan tidak memperlihatkan perhiasan kecuali kepada orang-orang khusus yang telah disebutkan.

    D.  Aturan Berpakaian bagi Perempuan Muslimah

    Telah dikemukakan bahwa Islam  sangat memberikan perhatian kepada perempuan, oleh karenanya Allah memerintahkan kepada Rasul untuk menutup aurat sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Ahzab, 33: 59

    Artinya: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

    Ayat di atas menginformasikan agar para muslimah menutup aurat dengan mengulurkan jilbab atau selendang agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu atau dilecehkan. Sehubungan dengan aturan  berpakaian bagi perempuan muslimah, Abdul Halim Abu Syuqqah dalam bukunya Tahrir al-Mar ah terj. As’ad Yasin mengemukakan batas aurat bagi perempuan muslimah yang dapat dikelompokkan pada tiga tingkat. Pertama, para isteri Rasulullah (ummulmukminin), mereka diwajibkan menutup seluruh tubuh dan menutup diri dari pandangan laki-laki. Bagi mereka itu berlaku istilah ”menutup aurat dan berhijab (pembatas)”. Kedua, perempuan mukmin yang merdeka, mereka diwajibkan menutup seluruh tubuh kecuali  wajah dan telapak tangan. Ketiga, perempan budak mukmin, mereka diwajibkan menutup seluruh tubuh, tetapi  ketika bekerja boleh membuka tutup kepala, sebagian lengan dan betis.

    Secara umum, ajaran agama memberikan aturan berpakaian bagi perempuan muslimah sebagai berikut:

    1. Pakaian harus menutup seluruh tubuh, kecuali wajah, tangan, dan kaki;
    2. Tidak memperlihatkan bentuk tubuh;
    3. Tidak terbuat dari bahan yang tipis dan tembus pandang;
    4. Tidak menyerupai model pakaian perempuan kafir dan non-muslim lainnya yang cenderung membuka aurat dan memancing nafsu syahwat lawan jenis;
    5. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

    Rujukan

    Al-Qur an al-Karim, terjemah perkata, Jakarta: Sygma, 1427 H/2007 M

    Shahih Muslim, juz 3, Indonesia: Maktabah Dahlan

    Abdul Halim Abu Syuqqah, terj. Khairul Halim. Kebebasan Wanita, Jakarta: Gema Insani Press, 1997


    Makalah disajikan dalam sosialisasi Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi yang disampaikan di Hotel Pangeran City pada tanggal 14 Mei 2009

    Ketua Bidang Pendidikan, Perempuan dan Keluarga MUI Propinsi Sumbar


    0 Responses to “PANDANGAN AGAMA TERHADAP PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI”



    1. Tinggalkan sebuah Komentar

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s


    %d blogger menyukai ini: